Jujur...
Dulu pas kenaikan kelas ke kelas XII rasanya senang bukan main dapat ranking III. Rasanya banggaaa... banget!
Apalagi waktu itu Mama lagi down sepeninggalannya Mbah Uti. Rasanya bisa mempersembahkan "sesuatu" buat Mama itu Alhamdulillah luar biasa. Belum lagi Hera yang berhasil meraih posisi pertama di penerimaan murid baru SMA N 2 Purwokerto lewat jalur tes. Muka Mama perlahan-lahan mulai berubah cerah. Bapak sama Mbah juga ikut bangga. Alhamdulillah...
Tapi, aku lupa...
Kalau semuanya bisa jadi bersifat sementara.
Lengah sedikit semuanya akan langsung lepas dari tanganku.
Aku mulai ketakutan.
Proses belajar yang tadinya enjoy berubah jadi bayang-bayang rasa takut kalau nilai-nilaiku anjlok dan aku nggak bisa mempertahankan posisi itu.
Tujuanku jadi berubah, benar-benar murni ingin mencari nilai, bukan menyerap ilmu.
Aku iri sama teman-temanku.
Aku tau kemampuanku nggak kayak mereka. Sebenarnya kemampuanku jauh di bawah mereka. Mereka lebih cepat tangkap, sedangkan aku perlu tertatih-tatih dulu untuk bisa memahami semuanya. Aku merasa minder.
Terus kenapa aku bisa dapat ranking III? Karena aku percaya bahwa kerja keras yang paling utama.
Tapi kerja kerasku mulai menurun. Drastis, bisa dibilang.
Nilai-nilaiku mulai turun. Belajar nggak tenang.
Sedikit-sedikit mengeluh, sedikit-sedikit nangis.
Aku selalu dibayangi nila-nilai dan tatapan guru-guru.
Jujur...
Aku nggak suka ditatap. I tell you, salah satu kelemahanku adalah ditatap, terutama oleh orang dewasa. Guru, misalnya.
Bukan berarti mereka monster, tapi nggak tau sejak kapan aku nggak suka ditatap. Aku risih, rasanya serba salah. Apalagi kalau ada guru yang menatap saya dengan bangga sambil berkata, "Kamu rajin, ya. Ini dia calon-calon juara. Saya yakin kamu pasti bisa."
Dalam hati saya menangis...
Tolong, jangan pernah diucapkan. Itu beban.
Nilai, ranking, prestasi, kebanggaan...
Aku mulai masa bodoh. Aku udah capek, batinku.
Aku lebih suka tidur, menenangkan pikiran.
Mungkin terdengar keterlaluan, tapi ini yang kusebut dengan titik jenuh (mungkin inilah yang dinamani dengan berlakunya Hukum Gossen I).
Di saat yang lain sedang semangat-semangatnya belajar untuk meraih SNMPTN Undangan, aku jenuh dengan belajar, rasanya muak.
Tapi aku selalu ketakutan, sampai frustasi rasanya.
Kalau aku kebanyakan mengeluh, kapan majunya?
Akhirnya, aku coba mengejar ketinggalan.
Tapi semakin kukejar, rasanya yang lain semakin jauh. Ibaratnya teman-temanku mencapai puncak gedung dengan lift, aku masih tertatih-tatih di tangga darurat lantai dasar.
Aku benci. Aku iri.
Tapi aku nggak mau mengotori diriku dengan cara curang.
Akhirnya, aku sadar...
(Lagi-lagi) aku jarang bersyukur. Aku nggak ikhlas. Aku arogan.
Aku tau semua usaha butuh proses yang panjang, tapi dalam sebagian besar tahap itu tidak aku lakukan dengan ikhlas (mungkin lebih kepada pamrih). Dan aku kurang (kurang atau tidak?) mensyukuri apa yang telah aku raih.
Aku selalu lupa bahwa di balik semua ini selalu ada Tuhan yang memutuskan.
Terus aku nangis sejadi-jadinya.
Ya Allah,
kalau begini terus aku harus pasang muka seperti apa di hadapan Mbah dan orang tuaku, terutama Mama?
Aku malu kalau aku sampai mencoreng wajah mamaku di hadapan guru-guruku. Semua kebanggaan tentangku dalam diri mereka akan lenyap, itu yang aku takutkan. Aku takut dan gemetar membayangkan tatapan penuh kekecewaan mereka terhadapku.
Mama, Bapak, maaf... maafin Lia.
Ya Allah, ampuni aku...
Aku ikhlas, Ya Allah, ikhlas...
Aku tau aku sudah melenceng, pikiran dan nuraniku sudah tidak lurus lagi. Aku melewatkan kesempatan yang telah Kau beri padaku secara cuma-cuma. Semester I sudah habis, dan aku harus siap menanggung serta menerima konsekuensinya.
Ya Allah, tolong lapangkan dada hamba...
Bukalah hati dan pikiran hamba, jangan pernah bosan untuk menuntun hamba kembali ke jalan yang benar, jalan yang diridhai oleh-Mu.
Aku akan mencoba dan terus mencoba untuk belajar ikhlas.
Ku relakan kebanggaanku itu pada teman-temanku yang lebih layak menyandangnya. Setelah berbagai usaha telah mereka lalui, aku tau dan yakin mereka pantas mendapatkannya. Aku ikhlas.
Bantu aku untuk selalu menguatkan hatiku, Ya Allah...
Bangunkan aku di saat aku tertidur.
Ingatkan aku di saat aku mulai melupakan-Mu.
Dan bisikkan nyanyian syahdu-Mu di kala aku mulai berpikir di luar kontrol.
Dan juga... genggam tanganku di saat aku terjatuh dan merasa putus harapan.
Aku tidak boleh menyerah, berapa kali pun aku terjatuh.
Ya Allah, awasi aku.
Showing posts with label regret. Show all posts
Showing posts with label regret. Show all posts
Friday, December 14, 2012
Sunday, October 21, 2012
Ketika Saya Merasa Jauh dari Tuhan...
Pernah, nggak, kalian merasa lepas kontrol?
Kalian pengen banget memperbaiki diri, tapi malah semakin terperosok ke dalam lubang, yah... sebut aja "Lingkaran Setan".
... And so do I.
Sebelumnya, aku minta maaf untuk posting-ku yang hancur-hancuran itu (baca : Cinta = Ilusi?). Aku mengaku, aku salah. Pengecut banget aku cuma bisa marah-marah lewat blog, sedangkan kalau ketemu langsung bersikap seolah nggak ada apa-apa tapi di belakangnya serasa mau runtuh.
Posting itu aku buat waktu aku lagi lost control, aku sulit mengendalikan diriku sendiri kalau lagi emosi. Semua yang aku lihat ataupun aku dengar akan selalu salah di mataku, dan aku yang paling benar. Itu kejelekanku.
Jujur, aku pengen nangis, pengen berlutut. Posting-an itu menyakitkan (ya iyalah. Siapa, sih, yang suka dimaki-maki di tempat umum kayak begini?). Mungkin maaf aja nggak cukup, tapi cuma ini yang bisa ku lakukan. Dan lagi-lagi aku pun nggak bisa minta maaf secara langsung, malah lewat posting ini. Bukannya gengsi, aku cuma nggak berani menatap matamu. Aku terlalu jahat untuk ukuran orang yang sempat kamu juluki "gadis baik-baik". I'm not a good girl like you used to see me.
Okay, masih ada problems lagi...
Tuhan... kenapa, sih, aku bisa jadi kayak gini?
Di usiaku yang semakin berkurang, aku bukannya beranjak dewasa. Aku malah merasa mundur, seperti anak kecil yang butuh perhatian dan nggak harus mengalah. Aku merasa capek, kadang aku merasa semuanya menekanku. Padahal aku tau, perasaan kayak gitu cuma ilusiku aja tapi aku terus aja dihantui perasaan kayak gitu.
Aku selalu bolak-balik shalat, berdoa, dan menangis. Tapi kenapa semuanya selalu terulang? Kenapa tubuh dan pikiranku lebih sering menolak kata hatiku? Di saat nuraniku berkata "TIDAK", aku malah semakin tergerak untuk melakukannya. Kadang, aku jadi benci diriku sendiri. Dalam keadaan seperti ini, aku akan terus memaki-maki diriku sendiri. Entah pengecutlah, nggak bergunalah, setanlah...
Aku lelah dengan diriku sendiri, sampai-sampai membiarkan tubuhku lost control, merasa masa bodoh yang penting gimana caranya kesalku ini bisa hilaaang...!! Tapi semakin aku membiarkan diriku lost control, aku semakin terpuruk.
Tuhan, sudah seberapa lama aku (mulai) lepas dari dekapan-Mu? Sudah seberapa jauh aku melenceng dari jalan yang diridhai oleh-Mu?
Okay, Lia. Relax. Nggak semuanya harus perfect, karena nggak ada yang sempurna kecuali Allah.
Dan aku mencoba untuk memulai dari awal.
Rasanya berat, tapi berhasil ku lalui.
Dan setelah itu?
Terjadi lagi. Terjatuh lagi.
Ya Allah...
Kenapa sulit sekali bagiku untuk bersyukur atas kehadiran cinta-Mu yang melimpah ruah dalam kehidupanku?
Kalian pengen banget memperbaiki diri, tapi malah semakin terperosok ke dalam lubang, yah... sebut aja "Lingkaran Setan".
... And so do I.
Sebelumnya, aku minta maaf untuk posting-ku yang hancur-hancuran itu (baca : Cinta = Ilusi?). Aku mengaku, aku salah. Pengecut banget aku cuma bisa marah-marah lewat blog, sedangkan kalau ketemu langsung bersikap seolah nggak ada apa-apa tapi di belakangnya serasa mau runtuh.
Posting itu aku buat waktu aku lagi lost control, aku sulit mengendalikan diriku sendiri kalau lagi emosi. Semua yang aku lihat ataupun aku dengar akan selalu salah di mataku, dan aku yang paling benar. Itu kejelekanku.
Jujur, aku pengen nangis, pengen berlutut. Posting-an itu menyakitkan (ya iyalah. Siapa, sih, yang suka dimaki-maki di tempat umum kayak begini?). Mungkin maaf aja nggak cukup, tapi cuma ini yang bisa ku lakukan. Dan lagi-lagi aku pun nggak bisa minta maaf secara langsung, malah lewat posting ini. Bukannya gengsi, aku cuma nggak berani menatap matamu. Aku terlalu jahat untuk ukuran orang yang sempat kamu juluki "gadis baik-baik". I'm not a good girl like you used to see me.
Okay, masih ada problems lagi...
Tuhan... kenapa, sih, aku bisa jadi kayak gini?
Di usiaku yang semakin berkurang, aku bukannya beranjak dewasa. Aku malah merasa mundur, seperti anak kecil yang butuh perhatian dan nggak harus mengalah. Aku merasa capek, kadang aku merasa semuanya menekanku. Padahal aku tau, perasaan kayak gitu cuma ilusiku aja tapi aku terus aja dihantui perasaan kayak gitu.
Aku selalu bolak-balik shalat, berdoa, dan menangis. Tapi kenapa semuanya selalu terulang? Kenapa tubuh dan pikiranku lebih sering menolak kata hatiku? Di saat nuraniku berkata "TIDAK", aku malah semakin tergerak untuk melakukannya. Kadang, aku jadi benci diriku sendiri. Dalam keadaan seperti ini, aku akan terus memaki-maki diriku sendiri. Entah pengecutlah, nggak bergunalah, setanlah...
Aku lelah dengan diriku sendiri, sampai-sampai membiarkan tubuhku lost control, merasa masa bodoh yang penting gimana caranya kesalku ini bisa hilaaang...!! Tapi semakin aku membiarkan diriku lost control, aku semakin terpuruk.
Tuhan, sudah seberapa lama aku (mulai) lepas dari dekapan-Mu? Sudah seberapa jauh aku melenceng dari jalan yang diridhai oleh-Mu?
Okay, Lia. Relax. Nggak semuanya harus perfect, karena nggak ada yang sempurna kecuali Allah.
Dan aku mencoba untuk memulai dari awal.
Rasanya berat, tapi berhasil ku lalui.
Dan setelah itu?
Terjadi lagi. Terjatuh lagi.
Ya Allah...
Kenapa sulit sekali bagiku untuk bersyukur atas kehadiran cinta-Mu yang melimpah ruah dalam kehidupanku?
Sunday, March 25, 2012
Give Up?
... Halo~
Pembinaan intensif OSN Ekonominya udah dimulai sejak Kamis yang lalu, nih... berarti, sampai detik ini aku udah mengikuti pembinaan selama tiga hari dan itu sama sekali nggak membosankan. Aneh, ya? Padahal bayanganku awal-awalnya udah suntuk, nggak mudeng, dll... tapi, guess what? Aku menikmatinya.
Yang jadi masalah sekarang adalah gimana caranya supaya aku nggak tertekan menghadapi soal-soal dan logika yang harus ku pakai. Secara, yah, ( jujur ) aku bukan tipe orang yang rasional. Sulit rasanya menghadapi soal kalau 100% pakai logika, aku lebih cenderung hapalan dan terkadang persis kayak apa yang ada di buku ( di situ salahku! ). Mau nggak mau aku harus berjuang mengubah tipe atau pola belajarku.
Ada hal lain lagi yang membuat aku merasa tertekan. Aku, tuh, rasanya begooo... banget. Sama anak-anak lainnya, terutama aksel atau katakanlah anak-anak kelas X, aku rasanya kayak selalu jauh tertinggal. Kalau udah habis ngerjain soal dan diperiksa teman lainnya, aku penasaran banget berapa salahku. Tapi, aku tau nantinya aku juga bakal gela sendiri karena salahku banyak banget dibanding yang lainnya. Tau, nggak? Pas pembinaan hari kedua, nilaiku paling rendah. Masa' dari 79 soal aku salah 41? Kebangetan!
Malu. Malu rasanya. Belum lagi kalau harus menghadapi semangatku yang "kembang-kempis". Aku senang mendengar cerita Mbak Nanda tentang pengalamannya selama mengikuti OSN Ekonomi sampai akhirnya dia dapat medali perak. Setelah mendengar itu, aku biasanya membayangkan aku yang nantinya juga akan dikalungi medali itu ( entah emas, perak, atau perunggu ) dan aku jadi termotivasi. Tapi, sesampainya di rumah, semangatku langsung mengendur. Mau belajar aja rasanya beraaattt... banget. Padahal aku yakin, tuh, yang lainnya pada belajar mati-matian ( makanya nilai mereka bagus-bagus, yah. Dan nilaiku rendah. Hmm. ) sedangkan aku bawaannya ngantuuuk... melulu. Ujung-ujungnya tidur. Dan yang baru dipelajari cuma seupil.
Sifat burukku adalah aku nggak bisa mengendalikan rasa malasku, suka menunda-nunda, dan sulit untuk benar-benar full-motivated. Satu lagi, terkadang aku suka meremehkan yang ujung-ujungnya menyesal sendiri. Aku nggak bisa menghargai waktu, dan aku benci itu. Setiap kali aku bercermin, aku selalu teriak dalam hati sampai muak rasanya, "Kamu itu apa? Siapa? Lia? Mau jadi apa kamu kalau kamu malas-malasan kayak gitu? Itu manusia apaan coba lagi bercermin mukanya hopeless banget? Kamu nggak berguna kalau kamu nggak mau berusaha. Kamu itu banyak kekurangannya, jadi kalau mau berusaha harus berkali-kali lipat daripada orang lain! Kamu itu terlalu lemah! Terlalu sombong!"
BANG! Pengen banget rasanya kutonjok itu cermin. Aku jadi ngamuk sendiri, nih...
Jadi pengen nangis. Berasa "terbelakang" gitu, nggak, sih? Aku capek. Aku capek bertarung melawan diriku sendiri. Ingat Tuhan pun terkadang karena merasa itu adalah suatu kewajiban, bukan benar-benar sadar dari hati yang terdalam. Terkadang aku pengen menyerah, "Ah... udah, ah. Yang lain lebih pintar dari aku. Udahlah, mereka aja yang maju."
Aku terlalu banyak mengeluh. Terlalu banyak "ini-itu". Tapi, biarpun begitu terkadang masih ada "suara" lain dalam hati kecil aku berteriak, "Jangan, Lia! Jangan berikan kesempatan emas itu pada orang lain! Berusahalan dulu semampumu, kerahkan semua kemampuanmu. Sisanya serahkan pada Yang Di Atas, jadinya terpilih atau tidak kamu nggak akan menyesal."
... Dan 75% dari dalam diriku belum mau menyerah.
Tapi aku takut 25%-nya ini semakin membesar, yang nantinya bakal semakin menciutkan nyaliku.
"Proses berbanding lurus dengan hasil."
Semangat, Lia!
Hhh~
Pembinaan intensif OSN Ekonominya udah dimulai sejak Kamis yang lalu, nih... berarti, sampai detik ini aku udah mengikuti pembinaan selama tiga hari dan itu sama sekali nggak membosankan. Aneh, ya? Padahal bayanganku awal-awalnya udah suntuk, nggak mudeng, dll... tapi, guess what? Aku menikmatinya.
Yang jadi masalah sekarang adalah gimana caranya supaya aku nggak tertekan menghadapi soal-soal dan logika yang harus ku pakai. Secara, yah, ( jujur ) aku bukan tipe orang yang rasional. Sulit rasanya menghadapi soal kalau 100% pakai logika, aku lebih cenderung hapalan dan terkadang persis kayak apa yang ada di buku ( di situ salahku! ). Mau nggak mau aku harus berjuang mengubah tipe atau pola belajarku.
Ada hal lain lagi yang membuat aku merasa tertekan. Aku, tuh, rasanya begooo... banget. Sama anak-anak lainnya, terutama aksel atau katakanlah anak-anak kelas X, aku rasanya kayak selalu jauh tertinggal. Kalau udah habis ngerjain soal dan diperiksa teman lainnya, aku penasaran banget berapa salahku. Tapi, aku tau nantinya aku juga bakal gela sendiri karena salahku banyak banget dibanding yang lainnya. Tau, nggak? Pas pembinaan hari kedua, nilaiku paling rendah. Masa' dari 79 soal aku salah 41? Kebangetan!
Malu. Malu rasanya. Belum lagi kalau harus menghadapi semangatku yang "kembang-kempis". Aku senang mendengar cerita Mbak Nanda tentang pengalamannya selama mengikuti OSN Ekonomi sampai akhirnya dia dapat medali perak. Setelah mendengar itu, aku biasanya membayangkan aku yang nantinya juga akan dikalungi medali itu ( entah emas, perak, atau perunggu ) dan aku jadi termotivasi. Tapi, sesampainya di rumah, semangatku langsung mengendur. Mau belajar aja rasanya beraaattt... banget. Padahal aku yakin, tuh, yang lainnya pada belajar mati-matian ( makanya nilai mereka bagus-bagus, yah. Dan nilaiku rendah. Hmm. ) sedangkan aku bawaannya ngantuuuk... melulu. Ujung-ujungnya tidur. Dan yang baru dipelajari cuma seupil.
Sifat burukku adalah aku nggak bisa mengendalikan rasa malasku, suka menunda-nunda, dan sulit untuk benar-benar full-motivated. Satu lagi, terkadang aku suka meremehkan yang ujung-ujungnya menyesal sendiri. Aku nggak bisa menghargai waktu, dan aku benci itu. Setiap kali aku bercermin, aku selalu teriak dalam hati sampai muak rasanya, "Kamu itu apa? Siapa? Lia? Mau jadi apa kamu kalau kamu malas-malasan kayak gitu? Itu manusia apaan coba lagi bercermin mukanya hopeless banget? Kamu nggak berguna kalau kamu nggak mau berusaha. Kamu itu banyak kekurangannya, jadi kalau mau berusaha harus berkali-kali lipat daripada orang lain! Kamu itu terlalu lemah! Terlalu sombong!"
BANG! Pengen banget rasanya kutonjok itu cermin. Aku jadi ngamuk sendiri, nih...
Jadi pengen nangis. Berasa "terbelakang" gitu, nggak, sih? Aku capek. Aku capek bertarung melawan diriku sendiri. Ingat Tuhan pun terkadang karena merasa itu adalah suatu kewajiban, bukan benar-benar sadar dari hati yang terdalam. Terkadang aku pengen menyerah, "Ah... udah, ah. Yang lain lebih pintar dari aku. Udahlah, mereka aja yang maju."
Aku terlalu banyak mengeluh. Terlalu banyak "ini-itu". Tapi, biarpun begitu terkadang masih ada "suara" lain dalam hati kecil aku berteriak, "Jangan, Lia! Jangan berikan kesempatan emas itu pada orang lain! Berusahalan dulu semampumu, kerahkan semua kemampuanmu. Sisanya serahkan pada Yang Di Atas, jadinya terpilih atau tidak kamu nggak akan menyesal."
... Dan 75% dari dalam diriku belum mau menyerah.
Tapi aku takut 25%-nya ini semakin membesar, yang nantinya bakal semakin menciutkan nyaliku.
"Proses berbanding lurus dengan hasil."
Semangat, Lia!
Hhh~
Tuesday, December 13, 2011
MENGUMPAT
Nggak tau kenapa, nih, akhir-akhir ini jadi sensitif aja gitu...
Kayaknya apa-apa dibikin kesal terus.
Mau ngapa-ngapain jadinya nggak enak.
Sebenarnya dari dulu yang pengen banget aku lakukan tiap kali kondisiku lagi begini cuma satu, yaitu MENGUMPAT.
Kenapa harus MENGUMPAT?
Karena menurutku, dengan mengumpat bisa mengeluarkan sebagian emosi yang ada dalam diri kita.
Karena menurutku, dengan mengumpat seakan-akan sebagian beban kita ikut hilang.
Karena menurutku, dengan mengumpat dapat melampiaskan semua kekesalan yang ada, jadinya sedikit merasa lega.
Tapi setiap kali aku mau mengumpat...
Lidahku seperti tertahan.
Seolah-olah seperti ada yang berteriak, "Jangan!"
Padahal orang lain dengan mudahnya mengucapkan "C****E", "S**T", "F**K", "K***T", "*S*", atau berbagai "kebun binatang" lainnya.
Terus, aku harus gimana?
Aku udah ber-Istighfar...
Tapi rasanya Istighfar pun belum cukup untuk meredam emosiku.
Dan juga belum cukup untuk menutupi kesalahanku, bertaubat, bahkan untuk memaafkan diriku sendiri.
Rasanya aku kayak manusia nggak tau malu.
NGGAK TAU BERSYUKUR!
Tuhan,
Jangan sampai aku terjerat dalam lingkaran setan.
Aamiin...
Kayaknya apa-apa dibikin kesal terus.
Mau ngapa-ngapain jadinya nggak enak.
Sebenarnya dari dulu yang pengen banget aku lakukan tiap kali kondisiku lagi begini cuma satu, yaitu MENGUMPAT.
Kenapa harus MENGUMPAT?
Karena menurutku, dengan mengumpat bisa mengeluarkan sebagian emosi yang ada dalam diri kita.
Karena menurutku, dengan mengumpat seakan-akan sebagian beban kita ikut hilang.
Karena menurutku, dengan mengumpat dapat melampiaskan semua kekesalan yang ada, jadinya sedikit merasa lega.
Tapi setiap kali aku mau mengumpat...
Lidahku seperti tertahan.
Seolah-olah seperti ada yang berteriak, "Jangan!"
Padahal orang lain dengan mudahnya mengucapkan "C****E", "S**T", "F**K", "K***T", "*S*", atau berbagai "kebun binatang" lainnya.
Terus, aku harus gimana?
Aku udah ber-Istighfar...
Tapi rasanya Istighfar pun belum cukup untuk meredam emosiku.
Dan juga belum cukup untuk menutupi kesalahanku, bertaubat, bahkan untuk memaafkan diriku sendiri.
Rasanya aku kayak manusia nggak tau malu.
NGGAK TAU BERSYUKUR!
Tuhan,
Jangan sampai aku terjerat dalam lingkaran setan.
Aamiin...
Saturday, August 7, 2010
Tentang Kamu
Aku nggak tau harus mulai dari mana...
Tapi satu hal yang pasti...
Walau sudah tiga bulan tujuh hari semenjak putusnya hubungan kita...
Tapi susah untuk melupakan semua kenangan-kenangan yang ada.
Delapan bulan enam belas hari...
Walau mungkin dalam waktu sesingkat itu tak ada sedikit pun kenangan yang berarti...
Tapi selalu hadir dalam benakku tiap kali kau melintas di depanku.
Tuhan...
Aku tau dalam agama tak memperbolehkan seorang ikhwan dan akhwat menjalin suatu hubungan tanpa ikatan resmi yang sakral...
Salahkah aku?
Dosakah aku?
Berpandangan dalam nafsu antara ikhwan dan akhwat pun zina.
Jadi, yang ku perbuat selama ini... zina?
Tapi kenapa SETAN itu masih melekat dalam diriku...!?
Setiap aku memandangimu dari kejauhan...
Aku selalu berharap...
Tuhan, buatlah ia menengok padaku.
Melihat diriku.
Melambaikan tangannya padaku.
Sambil tersenyum manis yang hanya ditujukan untukku.
Kini saat kau sedang bersama yang lain...
Tertawa. Bercanda. Bersama...
Ingin rasanya aku berlari secepatnya...
Menangis. Sendirian.
Tuhan...
Apa sudah ada yang lain di hatinya?
Ya Allah...
Maaf.
Maaf.
Maaf.
Maaf selalu melakukan hal yang salah.
Maaf aku belum bisa melupakannya.
Apa sekarang tak ada sedikit saja "rasa" untukku di hatimu?
Pernahkah kau berpikir sedikit saja tentangku? Tentang keadaanku, mungkin...
TIDAK, ya?
Lalu untuk apa aku terus-menerus memikirkanmu selama ini!?
Tak ada gunanya. KOSONG!
Tangisku sia-sia! Amarahku sia-sia!
Terbuang semua...!!
KAU PUAS!?
Rasanya ingin sekali aku MEMAKI-MAKI DIRIMU dan juga DIRIKU SENDIRI.
SIALAN BANGET lah!
Tapi apa? TAK ADA SATU PUN KATA MAKIAN YANG KELUAR DARI MULUTKU UNTUKMU.
Semua kupendam dalam hati. KUPENDAM SENDIRI.
Aku hanya bisa menangis.
Dan memohon ampun.
Maaf... maaf... maaf...
Maafkan aku, Ya Allah...
Bantu aku, Ya Allah...
Sudahlah...
Lepaskan saja.
Biarlah. Pergilah.
Ya Allah...
Ikhlaskan hatiku.
Cinta itu... menjauhlah.
Tinggalkanlah aku sendiri.
Cinta itu... musnahkanlah.
Karena kau satu-satunya...
Yang ku cintai.
Tapi satu hal yang pasti...
Walau sudah tiga bulan tujuh hari semenjak putusnya hubungan kita...
Tapi susah untuk melupakan semua kenangan-kenangan yang ada.
Delapan bulan enam belas hari...
Walau mungkin dalam waktu sesingkat itu tak ada sedikit pun kenangan yang berarti...
Tapi selalu hadir dalam benakku tiap kali kau melintas di depanku.
Tuhan...
Aku tau dalam agama tak memperbolehkan seorang ikhwan dan akhwat menjalin suatu hubungan tanpa ikatan resmi yang sakral...
Salahkah aku?
Dosakah aku?
Berpandangan dalam nafsu antara ikhwan dan akhwat pun zina.
Jadi, yang ku perbuat selama ini... zina?
Tapi kenapa SETAN itu masih melekat dalam diriku...!?
Setiap aku memandangimu dari kejauhan...
Aku selalu berharap...
Tuhan, buatlah ia menengok padaku.
Melihat diriku.
Melambaikan tangannya padaku.
Sambil tersenyum manis yang hanya ditujukan untukku.
Kini saat kau sedang bersama yang lain...
Tertawa. Bercanda. Bersama...
Ingin rasanya aku berlari secepatnya...
Menangis. Sendirian.
Tuhan...
Apa sudah ada yang lain di hatinya?
Ya Allah...
Maaf.
Maaf.
Maaf.
Maaf selalu melakukan hal yang salah.
Maaf aku belum bisa melupakannya.
Apa sekarang tak ada sedikit saja "rasa" untukku di hatimu?
Pernahkah kau berpikir sedikit saja tentangku? Tentang keadaanku, mungkin...
TIDAK, ya?
Lalu untuk apa aku terus-menerus memikirkanmu selama ini!?
Tak ada gunanya. KOSONG!
Tangisku sia-sia! Amarahku sia-sia!
Terbuang semua...!!
KAU PUAS!?
Rasanya ingin sekali aku MEMAKI-MAKI DIRIMU dan juga DIRIKU SENDIRI.
SIALAN BANGET lah!
Tapi apa? TAK ADA SATU PUN KATA MAKIAN YANG KELUAR DARI MULUTKU UNTUKMU.
Semua kupendam dalam hati. KUPENDAM SENDIRI.
Aku hanya bisa menangis.
Dan memohon ampun.
Maaf... maaf... maaf...
Maafkan aku, Ya Allah...
Bantu aku, Ya Allah...
Sudahlah...
Lepaskan saja.
Biarlah. Pergilah.
Ya Allah...
Ikhlaskan hatiku.
Cinta itu... menjauhlah.
Tinggalkanlah aku sendiri.
Cinta itu... musnahkanlah.
Karena kau satu-satunya...
Yang ku cintai.
Sunday, May 9, 2010
Terkadang...
Terkadang...
Aku suka berpikir...
Benarkah yang ku lakukan ini?
Tepatkah tindakan yang kuambil ini?
Kalau...
Kalau saja...
Aku selalu melangkah dengan ringannya.
Tak berpikir apapun.
Tak merisaukan hal ini-itu.
Tentu aku tak akan serumit ini.
Tapi itu tak mungkin.
Justru inilah salah satu hal yang harus ku syukuri :
PEMIKIRAN
yang harus dilandasi dengan KEBAIKAN
serta KEYAKINAN
( juga KESADARAN, pastinya... )
Tapi...
( Kenapa masih dan selalu ada kata "tapi"...?? )
Entah kenapa...
Dan entah apa yang terjadi...
Sepertinya...
Di setiap langkah yang kuambil...
Aku selalu merasa bersalah.
Kenapa, ya?
Setiap aku berdo'a...
Rasanya jarang sekali aku bisa khusyuk.
Bukan maksudku main-main, Ya Allah...
Tapi...
Kenapa aku selalu dan terlalu banyak meminta?
Ya Allah...
Jangan marah, ya...
Jangan hukum aku...
Sebab aku tau kuasa-Mu tiada batasnya...
Dan akan sangat menakutkan bagiku...
Apabila aku menerima hukuman dari-Mu.
Kapan aku bisa sadar...
Jadi lebih dewasa...
Dan bisa jadi lebih baik lagi, ya?
Aku suka berpikir...
Benarkah yang ku lakukan ini?
Tepatkah tindakan yang kuambil ini?
Kalau...
Kalau saja...
Aku selalu melangkah dengan ringannya.
Tak berpikir apapun.
Tak merisaukan hal ini-itu.
Tentu aku tak akan serumit ini.
Tapi itu tak mungkin.
Justru inilah salah satu hal yang harus ku syukuri :
PEMIKIRAN
yang harus dilandasi dengan KEBAIKAN
serta KEYAKINAN
( juga KESADARAN, pastinya... )
Tapi...
( Kenapa masih dan selalu ada kata "tapi"...?? )
Entah kenapa...
Dan entah apa yang terjadi...
Sepertinya...
Di setiap langkah yang kuambil...
Aku selalu merasa bersalah.
Kenapa, ya?
Setiap aku berdo'a...
Rasanya jarang sekali aku bisa khusyuk.
Bukan maksudku main-main, Ya Allah...
Tapi...
Kenapa aku selalu dan terlalu banyak meminta?
Ya Allah...
Jangan marah, ya...
Jangan hukum aku...
Sebab aku tau kuasa-Mu tiada batasnya...
Dan akan sangat menakutkan bagiku...
Apabila aku menerima hukuman dari-Mu.
Kapan aku bisa sadar...
Jadi lebih dewasa...
Dan bisa jadi lebih baik lagi, ya?
Thursday, April 22, 2010
Mam'sh, Maaf... X'(
Dengan segala kegundahan hati yang ada,
aku benar-benar meminta maaf...
Mam'sh, maaf...
Bukan maksud aku untuk bikin Mam'sh kaget...
Bukan maksud aku untuk bikin Mam'sh marah...
Bukan maksud aku untuk bikin Mam'sh kecewa...
Tapi aku cuma nggak mau memendam ini semuanya...
Aku nggak mau jadi anak yang tukang bohong.
Aku nggak mau sembunyi-sembunyi lagi.
Apalagi durhaka... waduh...
Aku nggak mau menyembunyikannya lagi dari Mam'sh. Aku nggak kuat...
Karena aku sayang Mam'sh, aku jujur...
Dan inilah aku.
Aah...
Malam itu... Kamis, 22 April 2010...
Adalah hari yang sangat bersejarah bagiku.
Dimana aku menumpahkan segalanya.
Sambil menangis terisak-isak.
Dengan segala ketakutan yang ada.
Dan memohon agar Mam'sh mau memaafkanku.
Dengan segala perasaan bersalah yang ada,
sekali lagi,
aku minta maaf, Mam'sh... X'(
aku benar-benar meminta maaf...
Mam'sh, maaf...
Bukan maksud aku untuk bikin Mam'sh kaget...
Bukan maksud aku untuk bikin Mam'sh marah...
Bukan maksud aku untuk bikin Mam'sh kecewa...
Tapi aku cuma nggak mau memendam ini semuanya...
Aku nggak mau jadi anak yang tukang bohong.
Aku nggak mau sembunyi-sembunyi lagi.
Apalagi durhaka... waduh...
Aku nggak mau menyembunyikannya lagi dari Mam'sh. Aku nggak kuat...
Karena aku sayang Mam'sh, aku jujur...
Dan inilah aku.
Aah...
Malam itu... Kamis, 22 April 2010...
Adalah hari yang sangat bersejarah bagiku.
Dimana aku menumpahkan segalanya.
Sambil menangis terisak-isak.
Dengan segala ketakutan yang ada.
Dan memohon agar Mam'sh mau memaafkanku.
Dengan segala perasaan bersalah yang ada,
sekali lagi,
aku minta maaf, Mam'sh... X'(
Subscribe to:
Posts (Atom)