Showing posts with label confession. Show all posts
Showing posts with label confession. Show all posts

Wednesday, February 20, 2013

Ibu Haryanti

Bu Haryanti,

taukah Ibu bahwa Ibu adalah satu-satunya
guru yang mampu menggugah semangat tentang kehidupan dalam diri saya
melalui cerita-cerita Ibu yang terhampar tiada batasnya?


Bu Haryanti,

tiada bosankah Ibu
mendulang perintah yang sama
meminta anak didikmu yang tak bisa berhenti berkicau
hingga waktu terlalu cepat untuk merasa usai?


Bu Haryanti,

beri ceritamu
pada kami yang haus akan dongeng kebajikanmu
yang memberi titik-titik cahaya penerang
dalam hidup remaja yang mudah tergelincir di lembah rintangan.

Tiada mengapa kau tak lagi bisa dengan jelas melihat bayang kami
karena bayang-bayang ini adalah milik Ibu, bayang-bayang para anak yang merindu
uluran kasih seorang ibu
dan guru, yang terus tegar berdiri dan mondar-mandir dalam ruang penuh bangku ini,
dan akan terus merangkul bayang Ibu hingga
Ibu dapat dengan jelas menangkap wajah-wajah belasan tahun,
wajah-wajah penuh kasih... terhadapmu.


Bu Haryanti,

bagaimana keadaan Ibu sekarang?
Masihkah Ibu takut dengan penglihatan yang bagimu bak hendak menelan Sang Surya?

Ibu tidak perlu takut.
Mungkin kami ribut, atau apalah
yang mampu mengikis kesabaranmu satu demi satu,
tapi kami menyayangi Ibu.


Ibu pasti sembuh.
Tiada lagi yang perlu mengganggu pandangan Ibu
dengan tangan ajaib-Nya,
yang mampu menghantarkan keajaiban
pada diri Ibu yang telah mengabdi dan
terukir dalam cita dan cinta kami.

Karenanya,
jangan pernah merasa lelah.

Pun kami akan terus berusaha
layaknya Ibu
agar kami pula bisa melihat
berlapis-lapis kebajikan yang tertanam dalam hidup di balik kemelut mendung,
seperti ceritamu
pada kami.

Thursday, December 20, 2012

Allahu Akbar! Allah Maha Besar!

Yaa Allah...
Yaa Rabb!

Allahu Akbar!
Allah Maha Besar!
Puji syukur atas segala karunia-Mu!

Alhamdulillah...
Terima kasih banyak, Ya Allah!!


Masih ingat posting saya sebelumnya yang tentang kegalauan akan nilai rapor dan peringkat?

Lima hari yang lalu semuanya terjawab sudah.

Selama perjalanan menuju sekolah, mulut saya komat-kamit berdoa,
"Ya Allah, lapangkanlah dada hamba. Ya Allah, ikhlaskan... iya, iya, aku mantap, jangan nangis lagi. Aku ikhlas. Bismillah..."


Begitu sampai sekolah, Nisa bilang, "Puk, puk... sabar, ya, kamu disalip Astri."

Jadi Astri yang ranking III?
... Dan Anita ranking II?


Nggak tau kenapa waktu itu perasaanku langsung plong. Pikiran pertama yang melintas saat itu adalah :

Ya Allah... terima kasih banyak. Selamat, Astri! Selamat Anita! ^^


Aku juga nggak tau kenapa tiba-tiba aku merasa lega. Mungkin aku merasa feeling-ku selama ini benar... kalau nggak Astri, ya, Anita. Selama ini aku memperhatikan kerja keras mereka. Dan semuanya terbayar. Dan aku benar-benar lega mereka yang "menggeser" aku dan Dea. Diam-diam aku liat wajah mereka tersenyum, walau cuma sedikit, berusaha menyembunyikan rasa bahagia.
Perasaannya meluap-luap, ya? Aku juga dulu begitu waktu tau masuk tiga besar. Rasanya di luar dugaan. Hihihi~ ^^

Selamat, Astri dan Anita! Pertahankan prestasi dan kerja keras kalian! :D


Dan pikiran kedua yang melintas di pikiranku saat itu adalah :

Kenapa aku bisa selega ini?


Mungkin karena aku yang (jujur) terlalu perfeksionis. Aku lelah dengan tatapan orang, perkataan-perkataan "wah, kamu pasti..." atau "saya yakin...", atau serentetan kata-kata lainnya yang membuatku tertekan.

Jujur, mentalku bukan mental tiga besar. Mungkin sebenarnya dari awal aku menyadari bahwa aku nggak siap menyandang peringkat tiga besar karena aku mudah goyah. Dan aku terlalu takut. Mungkin melalui tulisan ini, aku akan terlihat aneh dan terkesan membesar-besarkan suatu masalah di mata kalian. Tapi beginilah aku.

Sejak awal aku menyadarinya. Aku nggak siap. Ranking III. Tapi aku berusaha menutupinya.


Dan sekarang, terlepas dari predikat tiga besar, aku benar-benar lega. Terima kasih, Ya Allah...!

Mungkin nantinya orang-orang akan bertanya dan berkata bahwa sangat disayangkan (atau bahkan mungkin akan ada yang kecewa) aku bisa selengah itu sehingga membiarkan posisiku diambil orang lain.
Tapi aku tidak masalah. Kelengahan, keputusasaan, amarah, rasa jenuh, iri dan dengki, kelelahan, kearoganan, kebencian... itu semua memberiku pelajaran. Dan cukup membuatku terpukul.

Aku baru menyadari keindahan jalan yang diberikan Tuhan. Ketika aku jatuh dan berusaha bangkit dengan memohon meminjam kekuatan dari-Nya, aku diberi kelapangan dada. Aku masih hidup, diberi akal-pikiran, kekuatan untuk tetap maju dan bangkit, diberi tangisan dan amarah, diberi kesadaran. Aku tersenyum puas.


... Dan yang jadi masalah berikutnya adalah :
Bagaimana nilai-nilaiku? Aku rangking berapa?


Tak masalah predikat tiga besar ku lepaskan. Aku senang, lega, dan ikhlas. Tapi bukan berarti aku bisa diam saja dan tertawa haha-hihi. Kalau rankingku bergeser sebegitu parahnya berarti aku benar-benar keterlaluan. Aku akan mengecewakan kedua orang tuaku dan mbahku.

Doaku waktu itu :
Ya Allah, ranking 10 nggak apa-apa, deh. Maksimal sepuluh besar. Kalaupun aku sampai "terdampar" di luar sepuluh besar, ikhlaskan hatiku. Ya Allah, besarkan hatiku. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki diri, maafkan aku, buat diriku siap. Jangan down, jangan down...


Dan waktu Bu Nining mengumumkan peringkat sepuluh besarnya...
Alhamdulillah! Ya Allah, puji syukur, karunia-Mu sungguh tak terduga! Aku ranking 4! Paralel 8!

Ih, beneran waktu itu aku sampai sempat senyum-senyum sendiri sambil menahan tangis. Ih, gila. Ih, ih, ih... waw. Alhamdulillah... :')
Allahu Akbar! :')



Aku berharap ke depannya nanti aku bisa lebih dewasa. Jangan sampai galau nggak jelas lagi. Kalau bisa kegalauan yang mengganggu itu berkurang, perlahan-lahan (sambil memetik pelajaran dan hikmah kehidupan), sampai benar-benar hilang.
Sungguh, deh, itu kebiasaan burukku. Tiba-tiba bad mood, nangis dan marah-marah nggak jelas, nyalahin yang lain, terus malas ngapa-ngapain. Bahkan malas mengingat Tuhan. Astaghfirullah...

Bejat banget, sih, aku.

Ya Allah, teruslah bimbing aku. Dekap hatiku. Aku mencintai-Mu. Selalu. :')


Notes :
Selamat untuk Dewi yang berhasil meraih paralel II. Terima kasih banyak, Dewi, kamu sangat berjasa!
Terima kasih banyak, Astri!
^^

Friday, December 14, 2012

TAKUT

Jujur...

Dulu pas kenaikan kelas ke kelas XII rasanya senang bukan main dapat ranking III. Rasanya banggaaa... banget!
Apalagi waktu itu Mama lagi down sepeninggalannya Mbah Uti. Rasanya bisa mempersembahkan "sesuatu" buat Mama itu Alhamdulillah luar biasa. Belum lagi Hera yang berhasil meraih posisi pertama di penerimaan murid baru SMA N 2 Purwokerto lewat jalur tes. Muka Mama perlahan-lahan mulai berubah cerah. Bapak sama Mbah juga ikut bangga. Alhamdulillah...


Tapi, aku lupa...
Kalau semuanya bisa jadi bersifat sementara.
Lengah sedikit semuanya akan langsung lepas dari tanganku.


Aku mulai ketakutan.
Proses belajar yang tadinya enjoy berubah jadi bayang-bayang rasa takut kalau nilai-nilaiku anjlok dan aku nggak bisa mempertahankan posisi itu.
Tujuanku jadi berubah, benar-benar murni ingin mencari nilai, bukan menyerap ilmu.


Aku iri sama teman-temanku.
Aku tau kemampuanku nggak kayak mereka. Sebenarnya kemampuanku jauh di bawah mereka. Mereka lebih cepat tangkap, sedangkan aku perlu tertatih-tatih dulu untuk bisa memahami semuanya. Aku merasa minder.
Terus kenapa aku bisa dapat ranking III? Karena aku percaya bahwa kerja keras yang paling utama.

Tapi kerja kerasku mulai menurun. Drastis, bisa dibilang.
Nilai-nilaiku mulai turun. Belajar nggak tenang.
Sedikit-sedikit mengeluh, sedikit-sedikit nangis.
Aku selalu dibayangi nila-nilai dan tatapan guru-guru.


Jujur...

Aku nggak suka ditatap. I tell you, salah satu kelemahanku adalah ditatap, terutama oleh orang dewasa. Guru, misalnya.
Bukan berarti mereka monster, tapi nggak tau sejak kapan aku nggak suka ditatap. Aku risih, rasanya serba salah. Apalagi kalau ada guru yang menatap saya dengan bangga sambil berkata, "Kamu rajin, ya. Ini dia calon-calon juara. Saya yakin kamu pasti bisa."
Dalam hati saya menangis...
Tolong, jangan pernah diucapkan. Itu beban.


Nilai, ranking, prestasi, kebanggaan...
Aku mulai masa bodoh. Aku udah capek, batinku.
Aku lebih suka tidur, menenangkan pikiran.
Mungkin terdengar keterlaluan, tapi ini yang kusebut dengan titik jenuh (mungkin inilah yang dinamani dengan berlakunya Hukum Gossen I).
Di saat yang lain sedang semangat-semangatnya belajar untuk meraih SNMPTN Undangan, aku jenuh dengan belajar, rasanya muak.
Tapi aku selalu ketakutan, sampai frustasi rasanya.
Kalau aku kebanyakan mengeluh, kapan majunya?

Akhirnya, aku coba mengejar ketinggalan.
Tapi semakin kukejar, rasanya yang lain semakin jauh. Ibaratnya teman-temanku mencapai puncak gedung dengan lift, aku masih tertatih-tatih di tangga darurat lantai dasar.
Aku benci. Aku iri.
Tapi aku nggak mau mengotori diriku dengan cara curang.


Akhirnya, aku sadar...
(Lagi-lagi) aku jarang bersyukur. Aku nggak ikhlas. Aku arogan.
Aku tau semua usaha butuh proses yang panjang, tapi dalam sebagian besar tahap itu tidak aku lakukan dengan ikhlas (mungkin lebih kepada pamrih). Dan aku kurang (kurang atau tidak?) mensyukuri apa yang telah aku raih.
Aku selalu lupa bahwa di balik semua ini selalu ada Tuhan yang memutuskan.


Terus aku nangis sejadi-jadinya.
Ya Allah,
kalau begini terus aku harus pasang muka seperti apa di hadapan Mbah dan orang tuaku, terutama Mama?
Aku malu kalau aku sampai mencoreng wajah mamaku di hadapan guru-guruku. Semua kebanggaan tentangku dalam diri mereka akan lenyap, itu yang aku takutkan. Aku takut dan gemetar membayangkan tatapan penuh kekecewaan mereka terhadapku.


Mama, Bapak, maaf... maafin Lia.
Ya Allah, ampuni aku...
Aku ikhlas, Ya Allah, ikhlas...
Aku tau aku sudah melenceng, pikiran dan nuraniku sudah tidak lurus lagi. Aku melewatkan kesempatan yang telah Kau beri padaku secara cuma-cuma. Semester I sudah habis, dan aku harus siap menanggung serta menerima konsekuensinya.

Ya Allah, tolong lapangkan dada hamba...
Bukalah hati dan pikiran hamba, jangan pernah bosan untuk menuntun hamba kembali ke jalan yang benar, jalan yang diridhai oleh-Mu.
Aku akan mencoba dan terus mencoba untuk belajar ikhlas.

Ku relakan kebanggaanku itu pada teman-temanku yang lebih layak menyandangnya. Setelah berbagai usaha telah mereka lalui, aku tau dan yakin mereka pantas mendapatkannya. Aku ikhlas.


Bantu aku untuk selalu menguatkan hatiku, Ya Allah...
Bangunkan aku di saat aku tertidur.
Ingatkan aku di saat aku mulai melupakan-Mu.
Dan bisikkan nyanyian syahdu-Mu di kala aku mulai berpikir di luar kontrol.

Dan juga... genggam tanganku di saat aku terjatuh dan merasa putus harapan.


Aku tidak boleh menyerah, berapa kali pun aku terjatuh.
Ya Allah, awasi aku.

Sunday, October 21, 2012

Ketika Saya Merasa Jauh dari Tuhan...

Pernah, nggak, kalian merasa lepas kontrol?
Kalian pengen banget memperbaiki diri, tapi malah semakin terperosok ke dalam lubang, yah... sebut aja "Lingkaran Setan".

... And so do I.


Sebelumnya, aku minta maaf untuk posting-ku yang hancur-hancuran itu (baca : Cinta = Ilusi?). Aku mengaku, aku salah. Pengecut banget aku cuma bisa marah-marah lewat blog, sedangkan kalau ketemu langsung bersikap seolah nggak ada apa-apa tapi di belakangnya serasa mau runtuh.
Posting itu aku buat waktu aku lagi lost control, aku sulit mengendalikan diriku sendiri kalau lagi emosi. Semua yang aku lihat ataupun aku dengar akan selalu salah di mataku, dan aku yang paling benar. Itu kejelekanku.
Jujur, aku pengen nangis, pengen berlutut. Posting-an itu menyakitkan (ya iyalah. Siapa, sih, yang suka dimaki-maki di tempat umum kayak begini?). Mungkin maaf aja nggak cukup, tapi cuma ini yang bisa ku lakukan. Dan lagi-lagi aku pun nggak bisa minta maaf secara langsung, malah lewat posting ini. Bukannya gengsi, aku cuma nggak berani menatap matamu. Aku terlalu jahat untuk ukuran orang yang sempat kamu juluki "gadis baik-baik". I'm not a good girl like you used to see me.


Okay, masih ada problems lagi...

Tuhan... kenapa, sih, aku bisa jadi kayak gini?
Di usiaku yang semakin berkurang, aku bukannya beranjak dewasa. Aku malah merasa mundur, seperti anak kecil yang butuh perhatian dan nggak harus mengalah. Aku merasa capek, kadang aku merasa semuanya menekanku. Padahal aku tau, perasaan kayak gitu cuma ilusiku aja tapi aku terus aja dihantui perasaan kayak gitu.

Aku selalu bolak-balik shalat, berdoa, dan menangis. Tapi kenapa semuanya selalu terulang? Kenapa tubuh dan pikiranku lebih sering menolak kata hatiku? Di saat nuraniku berkata "TIDAK", aku malah semakin tergerak untuk melakukannya. Kadang, aku jadi benci diriku sendiri. Dalam keadaan seperti ini, aku akan terus memaki-maki diriku sendiri. Entah pengecutlah, nggak bergunalah, setanlah...

Aku lelah dengan diriku sendiri, sampai-sampai membiarkan tubuhku lost control, merasa masa bodoh yang penting gimana caranya kesalku ini bisa hilaaang...!! Tapi semakin aku membiarkan diriku lost control, aku semakin terpuruk.
Tuhan, sudah seberapa lama aku (mulai) lepas dari dekapan-Mu? Sudah seberapa jauh aku melenceng dari jalan yang diridhai oleh-Mu?


Okay, Lia. Relax. Nggak semuanya harus perfect, karena nggak ada yang sempurna kecuali Allah.

Dan aku mencoba untuk memulai dari awal.

Rasanya berat, tapi berhasil ku lalui.

Dan setelah itu?
Terjadi lagi. Terjatuh lagi.



Ya Allah...
Kenapa sulit sekali bagiku untuk bersyukur atas kehadiran cinta-Mu yang melimpah ruah dalam kehidupanku?

Tuesday, May 1, 2012

Cinta = Ilusi?

Aku bingung harus mulai ngomong dari mana. Yang jelas, aku kesal sekesal-kesalnya. Tapi, yah... ini juga karena kesalahanku, sih. Berawal dari kejadian tanggal 25 Agustus 2011, dia nembak aku di depan teman-teman sekelas (X-7). Sebelumnya, aku udah dikasih tau kalau dia ada "rasa" sama aku. Waktu itu aku benar-benar kaget dan nggak nyangka... bisa-bisanya? Dan setelah kupikir matang-matang... Mungkin... aku juga SUKA dia. Jadi, waktu mau ada acara buka bersama dan teman-teman memaksaku ikut, aku yakin ada yang nggak beres. Feeling-ku mau ditembak. Dan... Oh My God. Feeling-ku benar. Aku nggak nyangka bakal ditembak dengan cara seperti itu. Benar-benar nggak nyangka. Saking nggak nyangkanya sampai-sampai aku nangis terharu. Saat itu juga aku bilang kalau aku juga suka sama dia. Tapi, orang tuaku melarangku pacaran. Jadi, ( dengan begonya ) aku tanya dia, "Kamu mau nunggu aku?" Dan dia setuju. Dan bodohnya lagi, aku nggak menjelaskan lebih lanjut arti dari "menunggu" itu. "Menunggu" yang kumaksud adalah apabila dalam proses menunggu itu dia menemukan yang lebih baik daripada aku, it's okay. Aku fine, kok. Nggak masalah, karena memang dari awal nggak ada ikatan di antara kita, kan? Dan yang lebih bodohnya lagi, aku nggak ngasih tau dia tentang perasaan suka yang aku rasakan. Buat aku ( terutama setelah belajar dari pengalaman yang telah lalu ), aku menganggap bahwa rasa suka itu adalah sesuatu yang wajar. Lagipula itu juga merupakan salah satu bagian dari kehidupan remaja, kan? Tapi, caraku menanggapinya beda dengan yang lainnya, yang biasanya langsung pada jalan bareng, mojok di mana-manalah, SMS-an, telepon-teleponan, dll... aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar, yang biasa. It's normal if I had a feeling of him, tapi buatku itu yaa... "suka" yang sebatas "suka". Udah, itu aja. Nggak berlebihan. Tapi kamu tau, nggak apa yang dia lakukan? Gosip menyebar di mana-mana! Ada yang bilang aku pacaran sama dia udah satu bulan. Dan begitu aku tanya orang-orang tentang sumber berita nggak jelas itu, mereka bilang sumbernya dari si dia sendiri. What!? Kapan kita jadian!? Okelah, aku udah memprediksikan bakal ada gosip atau "kicauan" lainnya yang mengudara. Tapi, aku sama sekali nggak nyangka bakal separah ini. Berita darimana itu? Itu beneran dia yang nyebar-nyebarin? Kalau iya, GE-ER banget itu orang. Okay, aku mencoba sabar. Dan aku juga mencoba untuk memaklumi. Tapi ternyata nggak cuma itu aja... Dengan status-statusnya yang selalu mengudara alias up to date, isinya tentang cintaaa... semua. Oh, God... sekolah aja belum selesai, sebegitu seriusnya kamu memikirkan soal cinta? Sebegitu dalamnya kah? Jujur, perasaan kagum dan suka yang aku rasakan perlahan-lahan mulai luntur, bahkan berganti dengan perasaan ill-feel... sekaligus takut. Hey, cewek mana, sih, yang nggak takut kalau tau ada cowok yang suka sama dia sampai memaparkan segala hal yang si cowok rasakan di status? Kalaupun ada, paling cuma segelintir cewek alias minoritas. Dan sisanya? Sebagian besar cewek akan menjawab takut, ill-feel, bahkan lebih parahnya lagi si cowok bakal dianggap "stalker" atau terlalu ambisius. Aku udah coba menyindir secara halus lewat Twitter... Dia nggak ngerti ( atau sindiranku yang emang kurang "JLEB"? ). Aku udah coba berusaha kasih tau langsung ke dia kalau aku benar-benar nggak suka dengan "polah"-nya yang satu itu... Tapi ku batalkan. Aku nggak tega membayangkan wajahnya yang lagi berbunga-berbunga sampai sebegitu menggebu-gebunya tiba-tiba harus down berat. Akhirnya, aku minta tolong salah seorang sahabatku sebagai perantara... Sahabatku udah ngomong ( walaupun lewat chatting, sih... ), dan dia bilang kalau aku salah sangka. Katanya dia cuma nulis-nulis lagu di status-statusnya itu, bukan gombalan. Oh, maksudmu lirik-lirik lagu yang kamu tuliskan itu nggak ada maksud apa-apa selain benar-benar HANYA SEKEDAR menulis lagu? Oh, Boy! Kamu tau, nggak? Maksudmu itu bisa disalahpahami orang lain yang membaca status-statusmu itu! Okelah, itu hakmu untuk menuliskan apapun dalam statusmu. Aku sadar. Okelah, nggak seharusnya aku mengatur-ngatur kamu ataupun ikut campur mengenai hakmu dalam menuangkan "kreasi"-mu di statusmu. Aku tau. Tapi setidaknya bisa, nggak, kamu pergunakan hakmu itu secara bertanggung jawab? Maksudku, jangan sampai kamu pergunakan hakmu itu sampai orang lain merasa tidak nyaman. Mungkin kamu memang nggak bermaksud apa-apa, tapi status-statusmu itu bisa jadi "trending topic" karena disalahartikan orang lain, dan kemungkinan terburuknya adalah kamu akan mendapat label atau cap, alias julukan yang orang lain tujukan padamu berdasarkan pemikiran-pemikiran yang kamu tuangkan di statusmu tanpa kamu "filter" terlebih dahulu. Dan, please... bedakan mana hal privasi dan mana hal umum. Twitter itu bukan buku harian ( yah... tapi terserah, sih, kalau kamu memang menganggapnya sebagai buku harian. Yang penting jangan sampai meresahkan "warga" timeline lainnya ). Dan jujur, yah... maaf terkesan kasar, tapi inilah aku apa adanya. AKU PALING NGGAK SUKA SAMA COWOK TUKANG GOMBAL YANG TIDAK BISA MEMBEDAKAN MANA HAL YANG TERMASUK PRIVASI ATAU PRIBADI DAN MANA HAL YANG TERMASUK BOLEH DIUNGKAPKAN DI MUKA UMUM. Waktu itu kesabaranku udah benar-benar habis, apalagi semenjak kemunculan statusnya yang "itu". Akhirnya, setelah berdiskusi dan curhat sampai mewek-mewek ( lebay sekali saya ini ) dengan para sahabat, aku putuskan untuk ngomong langsung ke dia... Bahwa aku memang bersalah. Maafkan aku. Bahwa arti "menunggu" yang kumaksud bukan benar-benar suatu penantian yang seperti itu. "Menunggu"-ku bermaksud memberi kelonggaran padamu untuk tidak terikat padaku. Bahwa aku masih muda, dan masih banyak hal yang ingin kukejar serta butuh konsentrasi penuh. Pendidikan, pergaulan, nilai-nilai hidup, impian, tujuan hidup... Bahwa secara tidak langsung, aku memberitahukan tentang perasaanku yang sudah luntur. So, it's enough. We're friends now. Dan dia bilang bahwa dia nggak masalah, kita berteman. Tapi, dia ngomong dengan wajah yang lesu ( ya iyalah! ). Malamnya, dia nongol lagi di timeline. Kali ini, isi statusnya tentang kerelaannya melepaskan aku demi kebahagiaan aku. Bukan. Maksudku bukan hanya untuk kebahagiaanku, tapi juga untuk kebahagiaanmu. Yang ku harapkan adalah meskipun awalnya saling tersakiti, tapi kemudian kita bisa tetap berteman dan bahagia dengan jalan kita masing-masing. Dan dari kejadian ini juga, aku pengen kita berdua sama-sama memetik pelajaran bahwa di usia kita yang masih belia ini memang belum masanya untuk membicarakan hal yang complicated seperti cinta. Coba saja kau jabarkan, bisakah kau mendefinisikan arti cinta yang mendalam dan sesungguhnya, baik secara luas maupun simple-nya? Jangan pernah kau berani mengatakan cinta jika kau sendiri pun "salah jalur" dalam memahaminya. Tapi, seiring berjalannya timeline... Wah. Status-status galaunya mulai bermunculan. Dan untuk beberapa hari ke depan, status-status itu masih suka bermunculan. Oh, please. Kalau emang dari awal kamu bilang udah rela, ya udah. Jangan menambah kesalahpahaman orang lain. Aku tau kamu merasa sakit, tapi apa kamu kira aku juga nggak sakit? Di sini, aku terlihat sebagai pihak yang ( paling ) bersalah, dan itu rasanya menyakitkan. Semakin kamu menampakkan status-status galaumu itu, semakin merasa terpojoklah saya. Tapi, ya sudahlah... aku paham. Aku ngerti kenapa kamu menuliskan hal-hal itu. *Mengangguk-anggukkan kepala* Dan... Alhamdulillah, sekarang status-status seperti itu sudah jarang terlihat. Yang jadi masalah sekarang adalah gosip yang masih terus merebak, sampai-sampai cap saya sebagai cewek PHP ( Pemberi Harapan Palsu ) pun tak kunjung hilang. Lebih parahnya lagi, gosip tentang aku dan dia yang in relationship masih aja nggak ada habisnya. Benar-benar opera sabun yang hebat. Saya jadi geram. Yah... ini sudah merupakan konsekuensi yang harus saya tanggung. Bismillah... sabar. Kalau kamu baca ini, aku minta maaf. Benar-benar maaf. Apa kamu kaget melihat tulisanku yang satu ini? Terkesan kasar, ya? Memang. Hehehe. Saya memang kasar dan ceplas-ceplos. Maaf, kalau tulisan ini membuatmu panas. Tapi, sekali lagi aku BENAR-BENAR MINTA MAAF. Dan bagi orang lain yang juga turut mambaca posting-an saya yang satu ini, selamat membaca dan silakan ambil kesimpulan masing-masing. Cinta itu ilusi bagi orang seperti saya yang memang belum matang dalam memahami makna cinta yang sebenarnya. Bonne Nuit.

Sunday, March 25, 2012

Give Up?

... Halo~

Pembinaan intensif OSN Ekonominya udah dimulai sejak Kamis yang lalu, nih... berarti, sampai detik ini aku udah mengikuti pembinaan selama tiga hari dan itu sama sekali nggak membosankan. Aneh, ya? Padahal bayanganku awal-awalnya udah suntuk, nggak mudeng, dll... tapi, guess what? Aku menikmatinya.

Yang jadi masalah sekarang adalah gimana caranya supaya aku nggak tertekan menghadapi soal-soal dan logika yang harus ku pakai. Secara, yah, ( jujur ) aku bukan tipe orang yang rasional. Sulit rasanya menghadapi soal kalau 100% pakai logika, aku lebih cenderung hapalan dan terkadang persis kayak apa yang ada di buku ( di situ salahku! ). Mau nggak mau aku harus berjuang mengubah tipe atau pola belajarku.

Ada hal lain lagi yang membuat aku merasa tertekan. Aku, tuh, rasanya begooo... banget. Sama anak-anak lainnya, terutama aksel atau katakanlah anak-anak kelas X, aku rasanya kayak selalu jauh tertinggal. Kalau udah habis ngerjain soal dan diperiksa teman lainnya, aku penasaran banget berapa salahku. Tapi, aku tau nantinya aku juga bakal gela sendiri karena salahku banyak banget dibanding yang lainnya. Tau, nggak? Pas pembinaan hari kedua, nilaiku paling rendah. Masa' dari 79 soal aku salah 41? Kebangetan!

Malu. Malu rasanya. Belum lagi kalau harus menghadapi semangatku yang "kembang-kempis". Aku senang mendengar cerita Mbak Nanda tentang pengalamannya selama mengikuti OSN Ekonomi sampai akhirnya dia dapat medali perak. Setelah mendengar itu, aku biasanya membayangkan aku yang nantinya juga akan dikalungi medali itu ( entah emas, perak, atau perunggu ) dan aku jadi termotivasi. Tapi, sesampainya di rumah, semangatku langsung mengendur. Mau belajar aja rasanya beraaattt... banget. Padahal aku yakin, tuh, yang lainnya pada belajar mati-matian ( makanya nilai mereka bagus-bagus, yah. Dan nilaiku rendah. Hmm. ) sedangkan aku bawaannya ngantuuuk... melulu. Ujung-ujungnya tidur. Dan yang baru dipelajari cuma seupil.

Sifat burukku adalah aku nggak bisa mengendalikan rasa malasku, suka menunda-nunda, dan sulit untuk benar-benar full-motivated. Satu lagi, terkadang aku suka meremehkan yang ujung-ujungnya menyesal sendiri. Aku nggak bisa menghargai waktu, dan aku benci itu. Setiap kali aku bercermin, aku selalu teriak dalam hati sampai muak rasanya, "Kamu itu apa? Siapa? Lia? Mau jadi apa kamu kalau kamu malas-malasan kayak gitu? Itu manusia apaan coba lagi bercermin mukanya hopeless banget? Kamu nggak berguna kalau kamu nggak mau berusaha. Kamu itu banyak kekurangannya, jadi kalau mau berusaha harus berkali-kali lipat daripada orang lain! Kamu itu terlalu lemah! Terlalu sombong!"
BANG! Pengen banget rasanya kutonjok itu cermin. Aku jadi ngamuk sendiri, nih...

Jadi pengen nangis. Berasa "terbelakang" gitu, nggak, sih? Aku capek. Aku capek bertarung melawan diriku sendiri. Ingat Tuhan pun terkadang karena merasa itu adalah suatu kewajiban, bukan benar-benar sadar dari hati yang terdalam. Terkadang aku pengen menyerah, "Ah... udah, ah. Yang lain lebih pintar dari aku. Udahlah, mereka aja yang maju."
Aku terlalu banyak mengeluh. Terlalu banyak "ini-itu". Tapi, biarpun begitu terkadang masih ada "suara" lain dalam hati kecil aku berteriak, "Jangan, Lia! Jangan berikan kesempatan emas itu pada orang lain! Berusahalan dulu semampumu, kerahkan semua kemampuanmu. Sisanya serahkan pada Yang Di Atas, jadinya terpilih atau tidak kamu nggak akan menyesal."

... Dan 75% dari dalam diriku belum mau menyerah.
Tapi aku takut 25%-nya ini semakin membesar, yang nantinya bakal semakin menciutkan nyaliku.

"Proses berbanding lurus dengan hasil."

Semangat, Lia!
Hhh~

Tuesday, December 13, 2011

MENGUMPAT

Nggak tau kenapa, nih, akhir-akhir ini jadi sensitif aja gitu...
Kayaknya apa-apa dibikin kesal terus.
Mau ngapa-ngapain jadinya nggak enak.

Sebenarnya dari dulu yang pengen banget aku lakukan tiap kali kondisiku lagi begini cuma satu, yaitu MENGUMPAT.


Kenapa harus MENGUMPAT?


Karena menurutku, dengan mengumpat bisa mengeluarkan sebagian emosi yang ada dalam diri kita.
Karena menurutku, dengan mengumpat seakan-akan sebagian beban kita ikut hilang.
Karena menurutku, dengan mengumpat dapat melampiaskan semua kekesalan yang ada, jadinya sedikit merasa lega.

Tapi setiap kali aku mau mengumpat...
Lidahku seperti tertahan.
Seolah-olah seperti ada yang berteriak, "Jangan!"
Padahal orang lain dengan mudahnya mengucapkan "C****E", "S**T", "F**K", "K***T", "*S*", atau berbagai "kebun binatang" lainnya.

Terus, aku harus gimana?
Aku udah ber-Istighfar...
Tapi rasanya Istighfar pun belum cukup untuk meredam emosiku.
Dan juga belum cukup untuk menutupi kesalahanku, bertaubat, bahkan untuk memaafkan diriku sendiri.

Rasanya aku kayak manusia nggak tau malu.
NGGAK TAU BERSYUKUR!


Tuhan,
Jangan sampai aku terjerat dalam lingkaran setan.

Aamiin...

Saturday, December 10, 2011

Come Back Post...!

おはようございます!
좋은 아침!
早上好!
Bonjour!
Good Morning!
Selamat Pagi!

Apa kabar? Lama tidak blogging, ya... finally, selesai juga nge-post tentang anak-anak X-7, it took really really really a long time to finish it. And guess what? Sekarang aku lagi sibuk dengan berbagai kegiatan yang terkadang bikin aku pengen teriak-teriak sendiri. Sekarang aja hidungku udah mulai bersin-bersin. Oh My God... jangan sakit, please~
Anyway, tahukah kalian ciri-ciri orang nekad?

Adalah orang yang tidak menyukai pelajaran Ekonomi.
Adalah orang yang sejak kelas X nilai mata pelajaran Ekonominya suka remidial atau terkadang nilainya pas-pasan, paling nggak lolos dengan nilai mepet-mepet KKM.
Adalah orang yang tidak mengerti bagaimana kurva ini bisa begini dan begitu.
Adalah orang yang menjawab bahwa dampak dari pemberian subsidi kepada produsen justru malah menaikkan harga.
Adalah orang yang kalau melihat Guru Ekonominya saja kedua alisnya sudah mengernyit ( mohon maaf, yah... ).
Adalah orang yang selalu menguap saat pelajaran Ekonomi dan setelah bel usai pelajaran berbunyi baru manyadari bahwa tak ada satupun materi Ekonomi yang menyangkut di kepalanya.
Adalah orang yang menangis dan nyaris stress sendiri menjelang tes Ekonomi.
... Dan adalah orang yang tahu persis bahwa dirinya benci Ekonomi justru malah ikut serta pembinaan Olimpiade Ekonomi.


Ya, itulah SAYA.


GILA!
Sampai sekarang aja terkadang aku masih nggak percaya kalau aku ikut pembinaan itu! Tau kenapa saya nekad mengikutinya?

1. Iseng
2. Pengen coba-coba
3. Tambah pengalaman
4. Tambah teman
5. Biar sibuk

Tapi, sebenarnya di atas itu semua, sih, aku cuma pengen membunuh rasa benciku terhadap Ekonomi... masalahnya, kalau aku terus-terusan membenci Ekonomi gimana aku bisa maju? Apalagi aku anak IPS.
Jalan satu-satunya yang terlintas di kepalaku, yaa... ikut pembinaan Olimpiade Ekonomi.

Mungkin orang gila aja kali, ya, yang nekad ambil jalan seperti ini, tapi... yaa... mohon maaf, itulah saya. Capek, sih, iya... bahkan selama classmeeting dan liburan ini kayak nggak berasa liburan, rasanya seperti sedang dikejar-kejar deadline. Yah, itulah resikonya...
Rasanya pengen banget tiduran, tapi begitu ingat kalau belum belajar, pas tidur jadi rada kepikiran.

Padahal pas awal-awal pembinaan aku udah merasa kesindir, soalnya dibilangin, "Olimpiade itu bukan ajang untuk coba-coba ataupun main-main. Harus serius. Yang mau mengundurkan diri dari sekarang, silakan... mumpung masih awal-awal."
JDEEERRR...!! Alamak. Kena banget. Tapi, aku memutuskan untuk nggak mundur. Alasannya? Gengsi. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, ya, alasan sebenarnya aku cuma masih penasaran kenapa aku belum mudeng-mudeng sama pelajaran yang satu itu.
Yah, ambil sisi positifnya aja... hitung-hitung review materi pelajaran kelas X, yang di mana pada saat semester II aku hanya lolos ulangan harian satu kali, sisanya remidial semua.

Stress? Jujur... iya juga, sih.

Tapi... nggak apa-apalah. Harus tetap semangat.

Ayo, kita semangat, Rias, Bita, dan Alma!

Bismillah...

Monday, February 14, 2011

MYSTERY

Hi, how are you?
Long time no see ( again! Shame! )~ hehehe...^^;
Mulai besok libur sekolah sampai hari Sabtu. Tapi PR-nya numpuk. GUBRAK!
Gee~ how it will be?
Nevermind. Aku bisa. Insya Allah. Tuhan selalu ada bersamaku. Iya, kan, Ya Allah? :')

O ya, mohon do'anya, ya...
Untuk kesembuhan mbah yang habis operasi...
Dan mama supaya bisa pulang dengan selamat...
Pokoknya semua-muanya sehat wal 'afiat...
Amin.

Mau cerita...
Tapi mulai dari apa dulu, ya?
Kalau tentang remidial... kebanyakan. Jangan, deh, hehehe...^^;

It's about him.
I also do not know and since when but it seems I started to realize it.
Maybe... I... ( NO! )

Kau tak tahu betapa kasarnya dia. Betapa serampangannya dia. Betapa ketusnya dia. Betapa acuh tak acuhnya dia. Betapa menyebalkannya dia. Betapa betapa betapa...
Dan... betapa misterinya dia.

Seringkali ia membantuku... dalam hal-hal kecil. Dan, jujur... aku sangat terkesan. Tak banyak yang seperti itu.

Tak pernah kutahu apa maksudnya. Tak pernah ku mengerti apa yang diinginkannya.

Terkadang tersenyum. Terkadang ramah. Terkadang "menghempas"-ku dengan keras.

Tak bisa ditebak.

Aku masih belum tahu banyak tentangnya.

Lho... untuk apa?
*Bingung*

Terserahlah~
Aku tak tahu, aku tak tahu, aku tak tahuuu~~~

Lia oh Lia...
KONSENTRASI!
>:-|

Wednesday, November 17, 2010

Is That So?

Perasaan itu datang lagi...
Aku jadi mulai bertanya-tanya ( lagi )...

Salahkah aku?
Dosakah aku?

Kalau aku sudah mulai lupa, bolehkah?
Kalau aku sudah mulai suka, bolehkah?
Kalau aku hanya sekedar memandanginya, bolehkah?
Kalau aku ingin selalu berbincang-bincang bersamanya, bolehkah?
Kalau...
Kalau...
Kalau...
Hanya saja... apabila perasaan ini tak bisa dihentikan... bolehkah?

LUPA
Lupakan. Lupakan. Lupakan. Sudah mulai lupa. Lupa. Lupa. Hilang. Hilang.
Akhirnya aku bisa... menjadi 0%. Terima kasih, Ya Allah... :')
Sebab kalau aku terus bertahan... kalau aku terus mundur... kalau aku tak berani melihat ke depan...
Aku takut... aku akan lenyap... dan tengelam... sampai akhirnya aku lupa untuk apa sebenarnya aku hidup.

Tapi, sekarang...

A NEW DAY HAS COME
Dia yang apa adanya.
Kalau rasa itu mulai datang lagi... tak apakah?
Normal, kan, Ya Allah?
Tapi... aku tak tahan... tak tahan lagi.
Kalau ia sedang lewat... atau sekedar berlalu di hadapanku... serasa ada angin berhembus melalui celah-celah urat nadiku.
Kalau aku sedang memandanginya... dan terlihat. Lalu ia balas memandangiku... tubuhku serasa kesetrum.
Kalau aku sedang berbicara dengannya... atau mungkin sekedar melihat senyumannya... aduh, Tuhan... jantungku serasa ingin keluar... dan kepalaku serasa ingin meledak.
Dan lagi...
Ya ampun, apa maksudmu memperlakukanku seperti itu? Tidak jelas... aduh, aku takut salah paham.

Aku masih belum mengerti.
Yang ku lakukan ini... salah? Dosa?
Kalau ada "yang lain"... berarti aku tidak boleh? Begitu?
Ya ampun... kenapa yang satu ini aku tidak bisa lupa?
Bagaimana cara mengontrolnya, Ya Allah?
Maunya tidak kutatap malah ekor mataku selalu menangkap jelas gerak-gerik beserta bayangannya...
Aduh, Ya Allah...
Tolong aku...
Supaya aku tidak tenggelam lagi...
Karena aku masih terlalu takut...
Berani jatuh cinta, berani mencintai, berarti juga harus berani sakit hati.
Dan yang satu itu aku belum siap... aku belum siap kalau harus merasa sakit lagi...



Ini cinta anak berumur 16 tahun.
Ini cinta monyet, kan?
Ini cinta anak ingusan, kan?
Ini cinta bau kencur, kan?
Baiklah, jangan terlalu dipikirkan... jangan terlalu dipikirkan... jangan terlalu dianggap serius... jangan terlalu dianggap serius.
Huufftt...

Maaf, ya, Ya Allah...
Aku banyak dosa.
Dan selalu merepotkan-Mu.
Sekali lagi maaf...
:'(

Thursday, October 21, 2010

Puisi : Rasa

Dalam satu pandangan
Mata bertemu
Hati bertaut
Memendam rasa malu

Aku dan dirimu
Adalah sepasang mata
Adalah satu hati
Adalah cerminan batin

Hei, lelaki!
Matamu tajam, menyimpan banyak arti
Senyummu menawan, kau kubur diri
Betapa keras kepalanya! Betapa teguh pendiriannya!

Hei, lelaki!
Adakah genderang bertalu dalam hatimu?
Perang batin telah usai
Adalah aku yang membiarkan semuanya berlalu...

Thursday, May 20, 2010

Aku Hanya Ingin Bertanya : KENAPA?

KENAPA?

Sebuah pertanyaan yang selalu menggelayut dalam benakku.

Tidak bisakah aku mengambil jalan lurus?
Atau...
Tidak bisakah kau mengerti aku?
Kenapa?

Memangnya kenapa kalau air mataku tak bisa dihentikan?
Tiap kali aku melihatmu, rasanya aku ingin pergi saja... menghindarimu.

Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap waktu...
Tak bisakah kau kosongkan ruang di hatiku yang selalu penuh dengan kenangan-kenangan akan dirimu?

Terlalu puitis? Mungkin...
Kalau begitu maaf... "MAAF", hanya itu yang bisa ku katakan padamu.

Setiap aku melihatmu, menatapmu...
Bibirku kelu. Tak bisa bicara sepatah kata pun.
Yang ada hanya senyum. Tersenyum kecil... sambil bertanya-tanya...
"Masihkah kau ingat akan semua itu? Tak adakah yang tersisa satu pun tentangku dalam dirimu?"

Setiap kali aku mengingatmu.
Setiap kali itu pula aku terjatuh.
Luka batin yang tak tertahankan.
Tapi, tak ada artinya juga aku menangis.
Karena aku sudah hilang dari hidupmu.

Setiap aku bertemu denganmu, berbicara denganmu...
Tak terbendung kata "maaf" ingin terus mengalir deras dari mulutku...
Maaf, maaf...
Maaf aku belum bisa melupakanmu.
Maaf aku belum bisa berhenti menangis.
Maaf aku selalu melihat ke belakang.
Maaf aku selalu membuatmu susah.
Dan maaf karena aku mengingkari janji, aku belum bisa menjadi sahabat yang baik untukmu.
Karena dengan adanya perasaan ini...
Aku belum bisa menganggapmu sahabat, belum...
Sampai sekarang...
Sulit rasanya...

"Rasa" itu tak akan pernah lenyap dalam sekejap.
Masih bisa ku rasakan bagaimana kamu memanggil namaku.
Sambil menepuk pundak kananku.
"Li...", begitu ucapmu.
Dan terkadang aku pun masih bisa merasakannya walau kau tak lagi bersamaku.

Dan ketika aku merasakannya...
Merasakan kehadiranmu.
Panggilan darimu.
Aku menoleh...
Mencarimu.
Tapi tak ku temukan dirimu yang selalu membekas dalam ingatanku.

Aku...
Selalu...
Ingin menangis.
Ingin berlutut.

Maaf...
Benar-benar maaf.
...Dan KENAPA?

*Maaf aku tidak bisa jadi sahabat yang baik untukmu*

Saturday, May 9, 2009

Dia...

Dia...
Yang selalu kulihat...
Yang selalu ku rindukan...
Yang selalu kunanti...

I Love You
I Miss You
Soo... much!

He-he-he... (^__^)

Saturday, April 25, 2009

Aku Bingung...

My e-Diary...
Aku bingung... kepada siapa aku harus bersandar? Kepada siapa aku harus menangis? Kepada siapa aku harus memiliki rasa ini? Kepada siapa aku harus memilih? Cintakah? Atau...?
Tak penting bagaimana pandangan orang mengenai dirinya yang ( katanya ) terkadang menyebalkan. Tak kupikirkan bagaimana ia mengacuhkan omongan orang dan omonganku ( bahkan ) sampai terkadang membuatku kesal. Tak peduli seperti apa dia. Yang jelas aku cinta dia. Dan aku terima dia apa adanya...
Di mataku ia sempurna. Masa bodoh dengan segala kekurangan dan keburukannya yang penting aku cinta dia. Tapi... benarkah aku telah buta oleh cinta? Cinta monyet yang kata orang tak jelas dan hanya akan berlalu seiring waktu. Cinta anak ingusan yang harus segera dilupakan dan tak harus dipikirkan. Bahkan cinta yang telah membuatku lupa bahwa ada yang lebih mencintaiku, yaitu Allah SWT...?
Tuhan... aku tak tau apa langkah yang kuambil ini benar atau tidak. Aku lelah dengan semua ini. Setiap saat aku jatuh, ia mampu membangunkan semangat dalam diriku yang telah tertidur selama ratusan tahun. Tapi, aku merasa... aku tak boleh melangkah lebih jauh dari ini. Perlahan-lahan aku harus mundur... selangkah demi selangkah... untuk mendapatkan yang terbaik... bagiku dan bagi dirinya.
Telah aku ungkapkan semua rasa yang ada di hatiku. Telah kutumpahkan semua kejujuranku. Dan tanpa sadar telah kucurahkan pula seluruh kejahatanku. Tuhan... aku merasa hatiku dapat meleleh karena kata-kata dan senyumnya. Aku merasa diriku dapat hancur karena terus menangisinya. Dan aku merasa otakku tak bisa berpikir jernih lagi karena dia.
Rasanya... sakit, Tuhan... terkadang aku benci dan menyesali diriku sendiri. Kenapa aku bisa jatuh cinta padanya? Tapi, yah... seperti kata orang, " Cinta tumbuh secara tak sengaja. Kapanpun, dimanapun, dan dalam keadaan apapun... kau bisa menemukan cintanya. "
Tuhan, aku tau... kalau begini terus, aku bisa mati rasa. Seakan-akan seluruh tubuhku selalu dialiri dirinya. Haruskah aku melupakannya, Tuhan? Jika ini memang yang terbaik, akan kulaksanakan. Tapi susah, Tuhan... maka dari itu bantulah aku, Tuhan. Temui kembali aku dengan diriku yang dulu. Dimana aku bisa menjalin persahabatan dengan bebas dan dengan siapapun. Tanpa harus menyakiti yang lain... aku tau, apapun itu rencana-Mu. Itu adalah yang terbaik dari-Mu untuk diriku dan yang lainnya...
O ya, Tuhan... terima kasih sudah mengenalkanku padanya. Meskipun sama-sama ada rasa dalam hati kami, namun aku merasa aku tak akan pernah bisa menggapainya. Tapi, dari rasa ini... dapat kupetik kembali pelajaran berharga dari-Mu yang ( mungkin ) sampai sekarang belum bisa kutemukan. Tapi, tetap saja... aku benar-benar ingin menyampaikan rasa terima kasih ini pada-Mu. Terima kasih, Ya Allah... Engkaulah yang terbaik di antara yang paling baik. Aku lega sekarang...

Saturday, March 28, 2009

Salahkah Aku...?

Salahkah aku...
Menyukai dia... apa adanya?

Tapi... aku nggak mungkin pantas, yah...??
Masih banyak yang lain dan yang lebih baik dari aku...

Lebih baik kupendam saja perasaanku ini...
Dan kukubur dalam-dalam...

Dan akan selalu mencoba menjadi...
Sahabat terbaik baginya.

I Love U, Friend... So much.

Saturday, March 14, 2009

It's All About YOU . . .

It's useless for me to love you
Because I know...
That you are in here, beside me
But you never see me

Maybe you confused of what do I feel now
Sometimes yes, sometimes not...
You can't guess it
Because I always try to keep my feeling a secret

I want you to know
That I have a crush with you
It's my one-sided love
My special feeling and it's just for you

Well, nevermind...
Let me confront it myself
Now, go away...!
I'll let you go

You are free to go now
Go away with her
But don't leave me alone forever
Because we still friends, right?

And you know what?
I still love you
I'll never forget what do I feel now
Until you find your happiness, until I leave the world, until I die...


I Love U, Friend...
So much.