Tuesday, May 1, 2012
Cinta = Ilusi?
Aku bingung harus mulai ngomong dari mana. Yang jelas, aku kesal sekesal-kesalnya. Tapi, yah... ini juga karena kesalahanku, sih.
Berawal dari kejadian tanggal 25 Agustus 2011, dia nembak aku di depan teman-teman sekelas (X-7). Sebelumnya, aku udah dikasih tau kalau dia ada "rasa" sama aku. Waktu itu aku benar-benar kaget dan nggak nyangka... bisa-bisanya? Dan setelah kupikir matang-matang...
Mungkin... aku juga SUKA dia.
Jadi, waktu mau ada acara buka bersama dan teman-teman memaksaku ikut, aku yakin ada yang nggak beres. Feeling-ku mau ditembak. Dan... Oh My God. Feeling-ku benar.
Aku nggak nyangka bakal ditembak dengan cara seperti itu. Benar-benar nggak nyangka. Saking nggak nyangkanya sampai-sampai aku nangis terharu. Saat itu juga aku bilang kalau aku juga suka sama dia.
Tapi, orang tuaku melarangku pacaran. Jadi, ( dengan begonya ) aku tanya dia, "Kamu mau nunggu aku?"
Dan dia setuju.
Dan bodohnya lagi, aku nggak menjelaskan lebih lanjut arti dari "menunggu" itu. "Menunggu" yang kumaksud adalah apabila dalam proses menunggu itu dia menemukan yang lebih baik daripada aku, it's okay. Aku fine, kok. Nggak masalah, karena memang dari awal nggak ada ikatan di antara kita, kan?
Dan yang lebih bodohnya lagi, aku nggak ngasih tau dia tentang perasaan suka yang aku rasakan. Buat aku ( terutama setelah belajar dari pengalaman yang telah lalu ), aku menganggap bahwa rasa suka itu adalah sesuatu yang wajar. Lagipula itu juga merupakan salah satu bagian dari kehidupan remaja, kan? Tapi, caraku menanggapinya beda dengan yang lainnya, yang biasanya langsung pada jalan bareng, mojok di mana-manalah, SMS-an, telepon-teleponan, dll... aku hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar, yang biasa. It's normal if I had a feeling of him, tapi buatku itu yaa... "suka" yang sebatas "suka". Udah, itu aja. Nggak berlebihan.
Tapi kamu tau, nggak apa yang dia lakukan?
Gosip menyebar di mana-mana!
Ada yang bilang aku pacaran sama dia udah satu bulan. Dan begitu aku tanya orang-orang tentang sumber berita nggak jelas itu, mereka bilang sumbernya dari si dia sendiri. What!? Kapan kita jadian!?
Okelah, aku udah memprediksikan bakal ada gosip atau "kicauan" lainnya yang mengudara. Tapi, aku sama sekali nggak nyangka bakal separah ini. Berita darimana itu? Itu beneran dia yang nyebar-nyebarin? Kalau iya, GE-ER banget itu orang.
Okay, aku mencoba sabar. Dan aku juga mencoba untuk memaklumi. Tapi ternyata nggak cuma itu aja...
Dengan status-statusnya yang selalu mengudara alias up to date, isinya tentang cintaaa... semua. Oh, God... sekolah aja belum selesai, sebegitu seriusnya kamu memikirkan soal cinta? Sebegitu dalamnya kah?
Jujur, perasaan kagum dan suka yang aku rasakan perlahan-lahan mulai luntur, bahkan berganti dengan perasaan ill-feel... sekaligus takut.
Hey, cewek mana, sih, yang nggak takut kalau tau ada cowok yang suka sama dia sampai memaparkan segala hal yang si cowok rasakan di status? Kalaupun ada, paling cuma segelintir cewek alias minoritas. Dan sisanya? Sebagian besar cewek akan menjawab takut, ill-feel, bahkan lebih parahnya lagi si cowok bakal dianggap "stalker" atau terlalu ambisius.
Aku udah coba menyindir secara halus lewat Twitter...
Dia nggak ngerti ( atau sindiranku yang emang kurang "JLEB"? ).
Aku udah coba berusaha kasih tau langsung ke dia kalau aku benar-benar nggak suka dengan "polah"-nya yang satu itu...
Tapi ku batalkan. Aku nggak tega membayangkan wajahnya yang lagi berbunga-berbunga sampai sebegitu menggebu-gebunya tiba-tiba harus down berat.
Akhirnya, aku minta tolong salah seorang sahabatku sebagai perantara...
Sahabatku udah ngomong ( walaupun lewat chatting, sih... ), dan dia bilang kalau aku salah sangka. Katanya dia cuma nulis-nulis lagu di status-statusnya itu, bukan gombalan.
Oh, maksudmu lirik-lirik lagu yang kamu tuliskan itu nggak ada maksud apa-apa selain benar-benar HANYA SEKEDAR menulis lagu?
Oh, Boy! Kamu tau, nggak? Maksudmu itu bisa disalahpahami orang lain yang membaca status-statusmu itu!
Okelah, itu hakmu untuk menuliskan apapun dalam statusmu. Aku sadar.
Okelah, nggak seharusnya aku mengatur-ngatur kamu ataupun ikut campur mengenai hakmu dalam menuangkan "kreasi"-mu di statusmu. Aku tau.
Tapi setidaknya bisa, nggak, kamu pergunakan hakmu itu secara bertanggung jawab? Maksudku, jangan sampai kamu pergunakan hakmu itu sampai orang lain merasa tidak nyaman.
Mungkin kamu memang nggak bermaksud apa-apa, tapi status-statusmu itu bisa jadi "trending topic" karena disalahartikan orang lain, dan kemungkinan terburuknya adalah kamu akan mendapat label atau cap, alias julukan yang orang lain tujukan padamu berdasarkan pemikiran-pemikiran yang kamu tuangkan di statusmu tanpa kamu "filter" terlebih dahulu.
Dan, please... bedakan mana hal privasi dan mana hal umum. Twitter itu bukan buku harian ( yah... tapi terserah, sih, kalau kamu memang menganggapnya sebagai buku harian. Yang penting jangan sampai meresahkan "warga" timeline lainnya ).
Dan jujur, yah... maaf terkesan kasar, tapi inilah aku apa adanya.
AKU PALING NGGAK SUKA SAMA COWOK TUKANG GOMBAL YANG TIDAK BISA MEMBEDAKAN MANA HAL YANG TERMASUK PRIVASI ATAU PRIBADI DAN MANA HAL YANG TERMASUK BOLEH DIUNGKAPKAN DI MUKA UMUM.
Waktu itu kesabaranku udah benar-benar habis, apalagi semenjak kemunculan statusnya yang "itu".
Akhirnya, setelah berdiskusi dan curhat sampai mewek-mewek ( lebay sekali saya ini ) dengan para sahabat, aku putuskan untuk ngomong langsung ke dia...
Bahwa aku memang bersalah. Maafkan aku.
Bahwa arti "menunggu" yang kumaksud bukan benar-benar suatu penantian yang seperti itu. "Menunggu"-ku bermaksud memberi kelonggaran padamu untuk tidak terikat padaku.
Bahwa aku masih muda, dan masih banyak hal yang ingin kukejar serta butuh konsentrasi penuh. Pendidikan, pergaulan, nilai-nilai hidup, impian, tujuan hidup...
Bahwa secara tidak langsung, aku memberitahukan tentang perasaanku yang sudah luntur. So, it's enough. We're friends now.
Dan dia bilang bahwa dia nggak masalah, kita berteman. Tapi, dia ngomong dengan wajah yang lesu ( ya iyalah! ).
Malamnya, dia nongol lagi di timeline. Kali ini, isi statusnya tentang kerelaannya melepaskan aku demi kebahagiaan aku.
Bukan. Maksudku bukan hanya untuk kebahagiaanku, tapi juga untuk kebahagiaanmu. Yang ku harapkan adalah meskipun awalnya saling tersakiti, tapi kemudian kita bisa tetap berteman dan bahagia dengan jalan kita masing-masing. Dan dari kejadian ini juga, aku pengen kita berdua sama-sama memetik pelajaran bahwa di usia kita yang masih belia ini memang belum masanya untuk membicarakan hal yang complicated seperti cinta. Coba saja kau jabarkan, bisakah kau mendefinisikan arti cinta yang mendalam dan sesungguhnya, baik secara luas maupun simple-nya?
Jangan pernah kau berani mengatakan cinta jika kau sendiri pun "salah jalur" dalam memahaminya.
Tapi, seiring berjalannya timeline...
Wah. Status-status galaunya mulai bermunculan.
Dan untuk beberapa hari ke depan, status-status itu masih suka bermunculan.
Oh, please. Kalau emang dari awal kamu bilang udah rela, ya udah. Jangan menambah kesalahpahaman orang lain. Aku tau kamu merasa sakit, tapi apa kamu kira aku juga nggak sakit? Di sini, aku terlihat sebagai pihak yang ( paling ) bersalah, dan itu rasanya menyakitkan. Semakin kamu menampakkan status-status galaumu itu, semakin merasa terpojoklah saya.
Tapi, ya sudahlah... aku paham. Aku ngerti kenapa kamu menuliskan hal-hal itu. *Mengangguk-anggukkan kepala*
Dan... Alhamdulillah, sekarang status-status seperti itu sudah jarang terlihat.
Yang jadi masalah sekarang adalah gosip yang masih terus merebak, sampai-sampai cap saya sebagai cewek PHP ( Pemberi Harapan Palsu ) pun tak kunjung hilang. Lebih parahnya lagi, gosip tentang aku dan dia yang in relationship masih aja nggak ada habisnya.
Benar-benar opera sabun yang hebat. Saya jadi geram.
Yah... ini sudah merupakan konsekuensi yang harus saya tanggung.
Bismillah... sabar.
Kalau kamu baca ini, aku minta maaf. Benar-benar maaf.
Apa kamu kaget melihat tulisanku yang satu ini?
Terkesan kasar, ya? Memang. Hehehe. Saya memang kasar dan ceplas-ceplos.
Maaf, kalau tulisan ini membuatmu panas. Tapi, sekali lagi aku BENAR-BENAR MINTA MAAF.
Dan bagi orang lain yang juga turut mambaca posting-an saya yang satu ini, selamat membaca dan silakan ambil kesimpulan masing-masing.
Cinta itu ilusi bagi orang seperti saya yang memang belum matang dalam memahami makna cinta yang sebenarnya.
Bonne Nuit.
Friday, April 6, 2012
Tolong Aku...
Seseorang tolong aku...
Aku udah terserang mencret selama 9-10 hari, dan sampai sekarang masih.
Aku capek. Aku ingin bisa beraktivitas seperti biasa.
Aku udah minum obat, frekuensi buang airnya udah berkurang, tapi belum kunjung sembuh.
Seseorang tolong aku...
Aku udah terserang mencret selama 9-10 hari, dan sampai sekarang masih.
Aku capek. Aku ingin bisa beraktivitas seperti biasa.
Aku udah minum obat, frekuensi buang airnya udah berkurang, tapi belum kunjung sembuh.
Seseorang tolong aku...
Sunday, March 25, 2012
Give Up?
... Halo~
Pembinaan intensif OSN Ekonominya udah dimulai sejak Kamis yang lalu, nih... berarti, sampai detik ini aku udah mengikuti pembinaan selama tiga hari dan itu sama sekali nggak membosankan. Aneh, ya? Padahal bayanganku awal-awalnya udah suntuk, nggak mudeng, dll... tapi, guess what? Aku menikmatinya.
Yang jadi masalah sekarang adalah gimana caranya supaya aku nggak tertekan menghadapi soal-soal dan logika yang harus ku pakai. Secara, yah, ( jujur ) aku bukan tipe orang yang rasional. Sulit rasanya menghadapi soal kalau 100% pakai logika, aku lebih cenderung hapalan dan terkadang persis kayak apa yang ada di buku ( di situ salahku! ). Mau nggak mau aku harus berjuang mengubah tipe atau pola belajarku.
Ada hal lain lagi yang membuat aku merasa tertekan. Aku, tuh, rasanya begooo... banget. Sama anak-anak lainnya, terutama aksel atau katakanlah anak-anak kelas X, aku rasanya kayak selalu jauh tertinggal. Kalau udah habis ngerjain soal dan diperiksa teman lainnya, aku penasaran banget berapa salahku. Tapi, aku tau nantinya aku juga bakal gela sendiri karena salahku banyak banget dibanding yang lainnya. Tau, nggak? Pas pembinaan hari kedua, nilaiku paling rendah. Masa' dari 79 soal aku salah 41? Kebangetan!
Malu. Malu rasanya. Belum lagi kalau harus menghadapi semangatku yang "kembang-kempis". Aku senang mendengar cerita Mbak Nanda tentang pengalamannya selama mengikuti OSN Ekonomi sampai akhirnya dia dapat medali perak. Setelah mendengar itu, aku biasanya membayangkan aku yang nantinya juga akan dikalungi medali itu ( entah emas, perak, atau perunggu ) dan aku jadi termotivasi. Tapi, sesampainya di rumah, semangatku langsung mengendur. Mau belajar aja rasanya beraaattt... banget. Padahal aku yakin, tuh, yang lainnya pada belajar mati-matian ( makanya nilai mereka bagus-bagus, yah. Dan nilaiku rendah. Hmm. ) sedangkan aku bawaannya ngantuuuk... melulu. Ujung-ujungnya tidur. Dan yang baru dipelajari cuma seupil.
Sifat burukku adalah aku nggak bisa mengendalikan rasa malasku, suka menunda-nunda, dan sulit untuk benar-benar full-motivated. Satu lagi, terkadang aku suka meremehkan yang ujung-ujungnya menyesal sendiri. Aku nggak bisa menghargai waktu, dan aku benci itu. Setiap kali aku bercermin, aku selalu teriak dalam hati sampai muak rasanya, "Kamu itu apa? Siapa? Lia? Mau jadi apa kamu kalau kamu malas-malasan kayak gitu? Itu manusia apaan coba lagi bercermin mukanya hopeless banget? Kamu nggak berguna kalau kamu nggak mau berusaha. Kamu itu banyak kekurangannya, jadi kalau mau berusaha harus berkali-kali lipat daripada orang lain! Kamu itu terlalu lemah! Terlalu sombong!"
BANG! Pengen banget rasanya kutonjok itu cermin. Aku jadi ngamuk sendiri, nih...
Jadi pengen nangis. Berasa "terbelakang" gitu, nggak, sih? Aku capek. Aku capek bertarung melawan diriku sendiri. Ingat Tuhan pun terkadang karena merasa itu adalah suatu kewajiban, bukan benar-benar sadar dari hati yang terdalam. Terkadang aku pengen menyerah, "Ah... udah, ah. Yang lain lebih pintar dari aku. Udahlah, mereka aja yang maju."
Aku terlalu banyak mengeluh. Terlalu banyak "ini-itu". Tapi, biarpun begitu terkadang masih ada "suara" lain dalam hati kecil aku berteriak, "Jangan, Lia! Jangan berikan kesempatan emas itu pada orang lain! Berusahalan dulu semampumu, kerahkan semua kemampuanmu. Sisanya serahkan pada Yang Di Atas, jadinya terpilih atau tidak kamu nggak akan menyesal."
... Dan 75% dari dalam diriku belum mau menyerah.
Tapi aku takut 25%-nya ini semakin membesar, yang nantinya bakal semakin menciutkan nyaliku.
"Proses berbanding lurus dengan hasil."
Semangat, Lia!
Hhh~
Pembinaan intensif OSN Ekonominya udah dimulai sejak Kamis yang lalu, nih... berarti, sampai detik ini aku udah mengikuti pembinaan selama tiga hari dan itu sama sekali nggak membosankan. Aneh, ya? Padahal bayanganku awal-awalnya udah suntuk, nggak mudeng, dll... tapi, guess what? Aku menikmatinya.
Yang jadi masalah sekarang adalah gimana caranya supaya aku nggak tertekan menghadapi soal-soal dan logika yang harus ku pakai. Secara, yah, ( jujur ) aku bukan tipe orang yang rasional. Sulit rasanya menghadapi soal kalau 100% pakai logika, aku lebih cenderung hapalan dan terkadang persis kayak apa yang ada di buku ( di situ salahku! ). Mau nggak mau aku harus berjuang mengubah tipe atau pola belajarku.
Ada hal lain lagi yang membuat aku merasa tertekan. Aku, tuh, rasanya begooo... banget. Sama anak-anak lainnya, terutama aksel atau katakanlah anak-anak kelas X, aku rasanya kayak selalu jauh tertinggal. Kalau udah habis ngerjain soal dan diperiksa teman lainnya, aku penasaran banget berapa salahku. Tapi, aku tau nantinya aku juga bakal gela sendiri karena salahku banyak banget dibanding yang lainnya. Tau, nggak? Pas pembinaan hari kedua, nilaiku paling rendah. Masa' dari 79 soal aku salah 41? Kebangetan!
Malu. Malu rasanya. Belum lagi kalau harus menghadapi semangatku yang "kembang-kempis". Aku senang mendengar cerita Mbak Nanda tentang pengalamannya selama mengikuti OSN Ekonomi sampai akhirnya dia dapat medali perak. Setelah mendengar itu, aku biasanya membayangkan aku yang nantinya juga akan dikalungi medali itu ( entah emas, perak, atau perunggu ) dan aku jadi termotivasi. Tapi, sesampainya di rumah, semangatku langsung mengendur. Mau belajar aja rasanya beraaattt... banget. Padahal aku yakin, tuh, yang lainnya pada belajar mati-matian ( makanya nilai mereka bagus-bagus, yah. Dan nilaiku rendah. Hmm. ) sedangkan aku bawaannya ngantuuuk... melulu. Ujung-ujungnya tidur. Dan yang baru dipelajari cuma seupil.
Sifat burukku adalah aku nggak bisa mengendalikan rasa malasku, suka menunda-nunda, dan sulit untuk benar-benar full-motivated. Satu lagi, terkadang aku suka meremehkan yang ujung-ujungnya menyesal sendiri. Aku nggak bisa menghargai waktu, dan aku benci itu. Setiap kali aku bercermin, aku selalu teriak dalam hati sampai muak rasanya, "Kamu itu apa? Siapa? Lia? Mau jadi apa kamu kalau kamu malas-malasan kayak gitu? Itu manusia apaan coba lagi bercermin mukanya hopeless banget? Kamu nggak berguna kalau kamu nggak mau berusaha. Kamu itu banyak kekurangannya, jadi kalau mau berusaha harus berkali-kali lipat daripada orang lain! Kamu itu terlalu lemah! Terlalu sombong!"
BANG! Pengen banget rasanya kutonjok itu cermin. Aku jadi ngamuk sendiri, nih...
Jadi pengen nangis. Berasa "terbelakang" gitu, nggak, sih? Aku capek. Aku capek bertarung melawan diriku sendiri. Ingat Tuhan pun terkadang karena merasa itu adalah suatu kewajiban, bukan benar-benar sadar dari hati yang terdalam. Terkadang aku pengen menyerah, "Ah... udah, ah. Yang lain lebih pintar dari aku. Udahlah, mereka aja yang maju."
Aku terlalu banyak mengeluh. Terlalu banyak "ini-itu". Tapi, biarpun begitu terkadang masih ada "suara" lain dalam hati kecil aku berteriak, "Jangan, Lia! Jangan berikan kesempatan emas itu pada orang lain! Berusahalan dulu semampumu, kerahkan semua kemampuanmu. Sisanya serahkan pada Yang Di Atas, jadinya terpilih atau tidak kamu nggak akan menyesal."
... Dan 75% dari dalam diriku belum mau menyerah.
Tapi aku takut 25%-nya ini semakin membesar, yang nantinya bakal semakin menciutkan nyaliku.
"Proses berbanding lurus dengan hasil."
Semangat, Lia!
Hhh~
Monday, March 19, 2012
Oh~ I'm Gonna Miss This Drama!
안녕하세요~
Hehehe... apa kabar? Lama tak bersua melalui blog, yah, hahaha... diberi libur ( lumayan ) panjang tapi tak memanfaatkan waktu dengan baik, hahaha...
Anyway, sebenarnya berita ini udah lama banget, sih... guess what? "OJAKGYO BROTHERS" udah tamat!! Semuanya 58 episode, dan last episode-nya itu bikin aku benar-benar... wah. Nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Pokoknya ada sedih, bahagia, lega, jadi satu semuaaa~
AAAAAA~ "Ojakgyo Hyungjedeul", nan jeongmal bogoshipoyooo~ :')
Ending-nya benar-benar... wuw! Si penulis cerita benar-benar "licik" dalam meramu ceritanya. Beliau bisa menggabungkan antara deg-degan, sedih, kesal, geregetan, bahagia, lega, terharu, tawa, dan tangisan jadi satu! Pokoknya congratulations, deh, buat Lee Jung-Sun ( ngomong-ngomong beliau juga, kan, yang jadi screen writer-nya "Surgeon Bong Dal-Hee"? )! Sayang banget ada adegan yang di-cut pas episode terakhir, padahal di preview-nya ada, tuh. RAWR~
Tae-Hee dan Ja-Eun akhirnya nikah ( of course, they have to! ) dan Baek In-Ho ( Lee Young-Ha ), bapaknya Ja-Eun, terbukti nggak bersalah. Jahat banget si Lee Ki-Cheol, masa' bapaknya Ja-Eun dijadiin kambing hitam? Grrr~
Ini foto-foto wedding-nya mereka... taraaa~ UEE After School stuns as blushing bride. Wuw! Cantiknyaaa~ <3



Dan si sulung Tae-Sik juga bahagia bersama Mi-Suk. Akhirnya Guk-Su mau menerima pernikahan mereka dan Ha-Na mengganti namanya dari "Mo Ha-Na" menjadi "Hwang Ha-Na"! :)


Si Tae-Beom juga bahagia dengan istrinya, Su-Yeong. Si Hwang Cha-Gom udah lahir, malah, wkwkwk~ :3


Tapi, sayang banget si Tae-Phil sama Yeo-Eul harus pisah. Bukan cuma karena perbedaan umur yang jauh, tapi karena relasi dalam keluarga mereka. Tapi... gila banget sekali lagi aku pengen acungkan empat jempol untuk screen writer-nya! Meskipun hubungan mereka "off", tapi Lee Jung-Sun berhasil menggodok ceritanya dengan lebih baik. Di sini Tae-Phil jadi kelihatan lebih dewasa daripada sebelumnya. Mereka berdua kelihatan kuat dan mampu berpikir jauh ke depan tentang hubungan mereka. Perkembangan karakter yang ada benar-benar terasa! Dan aku salut banget sama persaudaraan keempat bersaudara itu waktu ketiga kakaknya mencoba menghibur adik bungsunya, Tae-Phil, yang udah nangis dan hopeless nggak karuan. Di sini air mataku benar-benar ( nyaris ) menetes! MANTAP!!! :')



Pokoknya congratulations buat "Ojakgyo Brothers" yang finally went to the "majimak", hehehe~ I'm gonna miss this drama. Really. Baru kali ini aku benar-benar nge-fans sama suatu drama Korea. "Ojakgyo Brothers" mampu membuat emosi kita bercampur jadi satu, cepat-cepat pulang ke rumah dan siap-siap menongkrong di depan TV, sekaligus merasakan kehangatan keluarga yang terpancar dari drama itu.
BIG THANKS to "Softy" who recaps the drama well and make the "OBsessions". I really love the way you write down the synopsis and tell us about your comment. Really NICE. :')
And BIG THANKS juga buat "King" yang berhasil menangkap wajah si tampan Tae-Hee ( in almost scene! Wuw! ). I really love that dan kalender bergambar Joo-Won ( CLOSE-UP, Booo~~ ) itu pengen cepat-cepat ku-download terus di-print dan dipajang di kamar~ <3
... THANK YOU, 오작교 형제들, FOR ALL THE GOOD MEMORIES.
☺ ♥
Softy : http://soulsrebel.wordpress.com
King : http://blog.daum.net/gswww/704
Hehehe... apa kabar? Lama tak bersua melalui blog, yah, hahaha... diberi libur ( lumayan ) panjang tapi tak memanfaatkan waktu dengan baik, hahaha...
Anyway, sebenarnya berita ini udah lama banget, sih... guess what? "OJAKGYO BROTHERS" udah tamat!! Semuanya 58 episode, dan last episode-nya itu bikin aku benar-benar... wah. Nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Pokoknya ada sedih, bahagia, lega, jadi satu semuaaa~
AAAAAA~ "Ojakgyo Hyungjedeul", nan jeongmal bogoshipoyooo~ :')
Ending-nya benar-benar... wuw! Si penulis cerita benar-benar "licik" dalam meramu ceritanya. Beliau bisa menggabungkan antara deg-degan, sedih, kesal, geregetan, bahagia, lega, terharu, tawa, dan tangisan jadi satu! Pokoknya congratulations, deh, buat Lee Jung-Sun ( ngomong-ngomong beliau juga, kan, yang jadi screen writer-nya "Surgeon Bong Dal-Hee"? )! Sayang banget ada adegan yang di-cut pas episode terakhir, padahal di preview-nya ada, tuh. RAWR~
Tae-Hee dan Ja-Eun akhirnya nikah ( of course, they have to! ) dan Baek In-Ho ( Lee Young-Ha ), bapaknya Ja-Eun, terbukti nggak bersalah. Jahat banget si Lee Ki-Cheol, masa' bapaknya Ja-Eun dijadiin kambing hitam? Grrr~
Ini foto-foto wedding-nya mereka... taraaa~ UEE After School stuns as blushing bride. Wuw! Cantiknyaaa~ <3



Dan si sulung Tae-Sik juga bahagia bersama Mi-Suk. Akhirnya Guk-Su mau menerima pernikahan mereka dan Ha-Na mengganti namanya dari "Mo Ha-Na" menjadi "Hwang Ha-Na"! :)


Si Tae-Beom juga bahagia dengan istrinya, Su-Yeong. Si Hwang Cha-Gom udah lahir, malah, wkwkwk~ :3


Tapi, sayang banget si Tae-Phil sama Yeo-Eul harus pisah. Bukan cuma karena perbedaan umur yang jauh, tapi karena relasi dalam keluarga mereka. Tapi... gila banget sekali lagi aku pengen acungkan empat jempol untuk screen writer-nya! Meskipun hubungan mereka "off", tapi Lee Jung-Sun berhasil menggodok ceritanya dengan lebih baik. Di sini Tae-Phil jadi kelihatan lebih dewasa daripada sebelumnya. Mereka berdua kelihatan kuat dan mampu berpikir jauh ke depan tentang hubungan mereka. Perkembangan karakter yang ada benar-benar terasa! Dan aku salut banget sama persaudaraan keempat bersaudara itu waktu ketiga kakaknya mencoba menghibur adik bungsunya, Tae-Phil, yang udah nangis dan hopeless nggak karuan. Di sini air mataku benar-benar ( nyaris ) menetes! MANTAP!!! :')



Pokoknya congratulations buat "Ojakgyo Brothers" yang finally went to the "majimak", hehehe~ I'm gonna miss this drama. Really. Baru kali ini aku benar-benar nge-fans sama suatu drama Korea. "Ojakgyo Brothers" mampu membuat emosi kita bercampur jadi satu, cepat-cepat pulang ke rumah dan siap-siap menongkrong di depan TV, sekaligus merasakan kehangatan keluarga yang terpancar dari drama itu.
BIG THANKS to "Softy" who recaps the drama well and make the "OBsessions". I really love the way you write down the synopsis and tell us about your comment. Really NICE. :')
And BIG THANKS juga buat "King" yang berhasil menangkap wajah si tampan Tae-Hee ( in almost scene! Wuw! ). I really love that dan kalender bergambar Joo-Won ( CLOSE-UP, Booo~~ ) itu pengen cepat-cepat ku-download terus di-print dan dipajang di kamar~ <3
... THANK YOU, 오작교 형제들, FOR ALL THE GOOD MEMORIES.
☺ ♥
Softy : http://soulsrebel.wordpress.com
King : http://blog.daum.net/gswww/704
Friday, December 16, 2011
Ojakgyo Hyungjedeul!! ♥ ♥ ♥

"I know he's my son, but what a work of art!"
Annyeonghaseyo~ (^o^)
Lama nggak nge-post tentang Korean drama, yaa... akhir-akhir ini ada drama Korea yang memikat hatiku banget, nich, aw aw aw~
Semenjak berlangganan Top TV akhirnya dapat KBS dan... taraaa~ welcome Korean Drama! Welcome, K-Pop! Hehehe~ sebenarnya dari awal aku udah terpikat sama drama ini waktu liat trailer/teaser-nya pertama kali di KBS. Tau kenapa? Soalnya pemainnya ada UEE After School, Jeon Mi-Seon ( yang jadi ibunya Kim Tak-Goo ), Jeong Woong-In ( OMG! Yang jadi Misaeng di "The Great Queen SeonDeok"!), dan... Moon Jun-Won/Joo-Won ( yang jadi Goo Ma-Jun! Si aktor tampan pemilik senyum mematikan! ) terus langsung, deh, liat jadwal mulainya. Dan sialnya, aku lupa... jadi nggak ngikutin dari awal. Aku baru ngikutin pas episode berapa gitu, kalau nggak salah udah belasan. Pokoknya baru mulai rutin ngikutin pas udah sampai episode yang di mana si UEE lagi ditindas teman-temannya habis-habisan. Setelah beberapa kali ngikutin, lama-lama mikir, "Bener, nih... seru juga ini drama," dan... tadaaa~ aku sampai jatuh cinta mati sama drama ini! X3


Bercerita tentang sebuah keluarga yang memiliki suatu peternakan ( peternakan apa perkebunan? ) bernama "Ojakgyo" yang terdiri atas seorang nenek bernama Shim Kab-Nyeon ( Kim Yong-Rim ), anaknya yang bernama Hwang Chang-Sik ( Baek Il-Seob ) beserta istrinya Park Bok-Ja ( Kim Ja-Ok ), dan juga Hwang bersaudara alias keempat anak mereka, yaitu Hwang Tae-Sik ( Jeong Woong-In ), Hwang Tae-Beom ( Ryu Su-Young ), Hwang Tae-Hee ( Moon Jun-Won/Joo-Won ), dan Hwang Tae-Phil ( Yeon Woo-Jin ). Intinya, drama ini bercerita tentang keluarga Hwang "plus" satu anggota lagi ( liat aja gambarnya, "plus" satu, kan? ), yaitu Baek Ja-Eun ( UEE ). Kenapa Ja-Eun bisa hadir dalam kehidupan mereka? Ini juga ceritanya yang aku rada nggak tau. Nggak nonton awalnya, sih... kalau nggak salah, kehidupan Ja-Eun yang semula bahagia dan bergelimang harta tiba-tiba jadi terpuruk dalam sekejap karena bapaknya dituduh korupsi dan nggak tau ke mana ( dalam cerita itu gosipnya, sih, udah meninggal ) plus ibu tirinya yang kabur juga nggak tau ke mana. Secara otomatis, Ja-Eun hidup terseok-seok karena hartanya ludes disita dan belum lagi nasibnya yang apes tiap kali ketemu penagih hutang. Hutang keluarganya menumpuk ( kalau nggak salah gara-gara ibu tirinya yang matre ) dan ujung-ujungnya Ja-Eun yang diuber-uber para penagih hutang.


Satu-satunya harta ayahnya yang tersisa hanyalah Perkebunan Ojakgyo yang dulu ( kalau nggak salah ) sempat disewakan bapaknya Ja-Eun kepada Hwang Chang-Sik dengan perjanjian kontrak selama kurang-lebih sepuluh tahun. Istrinya, Bok-Ja, nggak rela usaha kerasnya selama sepuluh tahun ini memulai usaha perkebunan dan merawat sendirian benar-benar dari nol harus menyerahkan kembali perkebunan yang dia anggap sudah seperti anaknya sendiri. Akhirnya, dia curi itu surat kontrak dari Ja-Eun dan secara otomatis Ja-Eun nggak bisa minta perkebunannya kalau nggak ada bukti tertulis hitam di atas putih. Ja-Eun panik karena dia mengira bahwa dia sendiri yang ceroboh menghilangkan surat kontraknya. Tapi, Ja-Eun pantang menyerah. Dia tetap yakin kalau perkebunan itu milik ayahnya dan sebagai anaknya, sudah pasti dia berhak memiliki perkebunan tersebut. Lagian dia juga udah nggak punya tempat tinggal, ya sekalian aja numpang di sana... tapi Bok-Ja nggak suka dan udah berkali-kali ngusir Ja-Eun. Ja-Eun yang keras kepala nggak putus asa gitu aja sampai-sampai dia rela mendirikan tenda di depan halaman rumah mereka!

Awalnya, sikap Ja-Eun yang egois ( kebiasaan hidup bergelimang harta kali, ya... ), angkuh, dan nggak sopannya minta ampun akhirnya mulai melunak dan berhasil meluluhkan hatinya Bok-Ja. Mereka mulai akrab dan menggarap perkebunan bersama sampai-sampai mereka merasa hubungan mereka sudah sangat dekat seperti ibu dan anak. Di sana juga Ja-Eun jatuh cinta pada anak ketiga mereka ( sebenarnya bukan anak kandung, sih, itu anak dari saudaranya Hwang Chang-Sik. Rumit kalau diceritain di sini. ), Tae-Hee, seorang detektif polisi yang emosional, cool, keras, introvert, susah mengekspresikan diri, kaku, tapi rapuh dan lembut hatinya.


Setelah akhirnya Ja-Eun mulai dekat dengan keluarga Hwang dan dianggap sebagai salah satu anggota keluarga mereka, Bok-Ja semakin merasa bersalah dan malapetaka pun terjadi. Saat Bok-Ja hendak menceritakan kejadian yang sebenarnya dan meminta maaf tentang surat kontraknya, Ja-Eun secara nggak sengaja udah nemuin surat kontrak itu duluan! Wah, otomatis terjadi perang dingin, deh, di Perkebunan Ojakgyo...

Ja-Eun yang kebetulan udah ketemu ibu tirinya akhirnya mengungsikan diri dari Keluarga Hwang karena nggak sudi lagi tinggal bareng mereka dan memutuskan untuk tinggal sama ibu tirinya di sebuah losmen tua sambil menghindari para penagih hutang. Dasar ular, setelah berpura-pura baik dan meminta maaf si ibu tirinya menghasut Ja-Eun untuk segera menjual Perkebunan Ojakgyo supaya bisa melunasi hutang ( dan mungkin selanjutnya dia berencana untuk lari lagi dengan uang sisa penjualan perkebunan dan meninggalkan Ja-Eun sendirian lagi ). Ja-Eun yang merasa kecewa karena merasa dikhianati bersikeras untuk nggak memaafkan ataupun kembali lagi ke Perkebunan Ojakgyo, padahal setelah kepergian Ja-Eun si Tae-Hee menyadari perasaannya dan mengatakan perasaan yang sesungguhnya terhadap Ja-Eun tapi malah dicaci maki habis-habisan karena begitu kesalnya Ja-Eun terhadap keluarga Hwang ( padahal sebenarnya dia masih suka, tuh, sama Tae-Hee ). Setelah perkebunannya terjual kepada sebuah perusahaan film, sang nenek, Kap-Nyeon, meminta Ja-Eun untuk tidak menjualnya ke perusahaan film tersebut karena ternyata direkturnya tak lain adalah Kim Hong ( entah diperankan oleh siapa ), suami kedua yang menikah dengan ibunya Tae-Hee setelah suami sebelumnya, saudaranya Chang-Sik, meninggal dalam kecelakaan dan meninggalkan Tae-Hee sendirian saat berusia... lupa, antara 4-6 tahun. Rumit, ya? Hehehe... aku aja bingung jelasinnya...^^;
Kap-Nyeon yang dendam terhadap ibunya Tae-Hee yang tega meninggalkan Tae-Hee begitu saja bersikeras meminta Ja-Eun supaya nggak menjual perkebunan tersebut kepada perusahaan film keluarga Kim, "Good Film", sambil bercerita tentang masa kecil Tae-Hee. Ja-Eun boleh menjual perkebunan itu kepada siapa saja, tapi tidak untuk keluarga Kim. Dan Ja-Eun yang tersentuh serta mulai luluh setelah mengetahui masa lalu Tae-Hee memutuskan untuk membatalkan kontrak penjualanya dengan Kim Je-Ha ( Jung Suk-Won ), wakil direktur "Good Film", yang tak lain adalah anak dari Kim Hong dan ibunya Tae-Hee ( yang ini entah anak kandung mereka atau bukan. Karena kalau nggak salah pernah nonton streaming lewat internet, katanya Je-Ha itu anak adopsi ). Je-Ha setuju untuk membatalkan kontrak dengan syarat Ja-Eun bisa mengganti uang kontraknya ( kalau nggak salah dua kali lipatnya, malah... ) dalam waktu enam bulan dan uang tersebut harus benar-benar murni hasil dari penjualan dari apa yang ada dalam Perkebunan Ojakgyo ( entah hasil penjualan bebek, telur bebek, makanan bebek, atau apalah ) terus juga harus bersedia nge-date sama Je-Ha sebanyak 20 kali! Berarti mau nggak mau Ja-Eun harus kembali ke Perkebunan Ojakgyo, dong... dan hal tersebut justru malah membuat Ja-Eun senang. Karena pada akhirnya Ja-Eun sadar, sebenci apapun dia terhadap keluarga Hwang ( bahkan bersumpah sampai mati pun nggak akan memaafkan mereka, terutama Bok-Ja ), rasa sayangnya lebih besar ketimbang rasa bencinya. Karena di sanalah untuk pertama kalinya dia merasakan hadirnya seorang ibu ( maklum, ibu kandungnya udah meninggal ) dan kehangatan keluarga. Sesampainya di sana, anggota keluarga Hwang yang lagi pada beres-beres untuk pindah rumah bingung melihat kedatangan Ja-Eun yang ingin tinggal lagi di sana. Akhirnya, Ja-Eun cerita tentang usaha dia mempertahankan perkebunannya dan itu membuat keluarga Hwang senang. Mereka dengan senang hati bersedia membantu Ja-Eun untuk mengganti uang kontraknya. Mereka senang Ja-Eun kembali ke Perkebunan Ojakgyo karena dengan itulah mereka merasa kehangatan keluarga mereka yang telah "hilang" dapat ditemukan kembali.

Dan... ehm, ini dia... Tae-Hee sama Ja-Eun jadi awkward banget. Kocak banget, deh! Pokoknya, si Tae-Hee paling nggak suka liat Ja-Eun dekat-dekat sama Je-Ha. Sampai akhirnya di episode 34-35 si Tae-Hee ( yang emang udah nggak tahan lagi ) bilang kalau sampai detik ini pun dia masih begitu menyukai Ja-Eun. And guess what? Ja-Eun cuma pasang muka bingung sambil bilang, "Ayo, pergi." terus pergi gitu aja! Hal ini jelas-jelas bikin Tae-Hee bingung dengan respon dari Ja-Eun. Begonya, si Tae-Hee malah curhat sama si Tae-Phil yang menurut dia paling handal dalam masalah cewek. Jelas aja si Tae-Phil ngetawain dia dan bolak-balik godain Tae-Hee sambil sengaja bilang "ayo, pergi" di tiap kesempatan. Bwahahaha~ nonton adegan yang satu ini emang bikin aku nggak bisa menahan tawa. Kocaknya minta ampun! X'D

Dan Tae-Hee yang emang udah benar-benar nggak tahan plus geregetan setengah mati menyeret Ja-Eun sambil minta penjelasan...


( Kira-kira begini translate-nya... )
Tae-Hee : Apa yang kau maksud dengan kata-kata "ya-ayo, pergi", apa artinya? Orang lain akan merasa tersedak sampai mau mati mendengar ucapanmu. Setidaknya aku harus tahu artinya. Kenapa kau membuatku gila? Aku hanya memahami kata-kata yang jelas seperti "ya" atau "tidak". Aku tidak mengerti sesuatu yang tidak jelas, karena itu jawab aku. Aku tak mau lagi gila karena hal ini dan aku sudah siap. Aku sudah siap, jadi jawablah pernyataanku.
Ja-Eun : ( Terdiam. )
Tae-Hee : Kubilang, aku sudah siap, jadi jawablah. Jawablah!
Ja-Eun : Apakah kau bodoh? Kau kira kenapa aku mau kembali ke perkebunan? Sampai mati pun aku tak bisa memaafkan Bibi, lalu kenapa aku mau memaafkannya? Aku harus memaafkan Bibi, jadi aku bisa melihatmu, aku harus kembali ke perkebunan agar bisa melihatmu kembali. Bagaimana bisa aku menjawab dengan "ya" atau "tidak" untuk menjelaskannya? Aku sangat merindukanmu, karena berharap ingin bertemu denganmu, rasanya membuatku gila, sering sekali aku ingin berlari menghampirimu, ingin mendengar suaramu, menginginkanmu membelikan kopi untukku. Jika aku membenci Bibi atau menjual perkebunan itu, aku tak dapat melakukan...
Tae-Hee : ( Tiba-tiba mencium Ja-Eun. )
Ja-Eun : ( Kaget. Berusaha menghindar dan melangkah mundur. )
Tae-Hee : Diam di situ.
Ja-Eun : ( Berhenti. )
And then... nyahahaha~ :D

And that's happened in episode 36! Sayang banget di Indonesia baru sampai episode 32... tapi, di episode 32 juga ada bahagianya, lho~ si anak kedua, Tae-Beom, akhirnya makin lengket sama istrinya, Cha Su-Yeong ( Choi Jung-Yoon ), yang dinikahinya secara terpaksa gara-gara lagi mabuk terus "MBA". Tapi, mereka juga kocak banget sumpah. Apalagi pas mulai muncul seorang pria di tempat kerja mereka yang kemudian menjadi atasan mereka, yang tak lain adalah teman kuliah Soo-Young. Dan dia naksir Soo-Young sejak kuliah! Berhubung mereka menyembunyikan pernikahan mereka di kantor, Soo-Young ngakunya masih lajang, otomatis si Tae-Beom kewalahan menghadapi PDKT-nya pria itu ke Soo-Young. Cemburu, nih, yee... hahaha~ sayangnya, akhir-akhir ini perkembangan hubungan mereka memburuk karena hadirnya Han Hye-Ryeong ( Kim Hae-In ), mantan pacar Tae-Beom, yang bikin Soo-Young cemburu buta dan semuanya jadi berantakan. Akhir-akhir ini juga si anak bungsu, Tae-Phil, sedang dekat-dekatnya dengan Nam Yeo-Eul ( Song Seon-Mi ), yang tak lain adalah bibinya sendiri! Soalnya Ye-Wool itu adiknya ibunya Soo-Young, jadi istilahnya "bibi ipar" gitu, deh, hehehe... yang kasihan si Tae-Sik. Kisah cintanya dengan Ye-Jin ( Yoon Joo-Hee ) kandas karena kehadiran Guk-Su ( Park Hee-Gun ), anak dari hasil hubungannya dengan Angelica ( jarang muncul tokoh yang satu ini ), mantan pacarnya di Philipina. Biarpun awalnya nggak mau nerima Guk-Su, lama-lama dia luluh dan mulai sayang sama Guk-Su. Terlebih lagi teman masa sekolahnya, Kim Mi-Sook ( Jeon Mi-Seon ), juga sayang dan tulus ikut merawat Guk-Su. Kayaknya, sih, ujung-ujungnya Tae-Sik sama Mi-Sook, tapi sampai sekarang belum ada perkembangannya, si Tae-Sik masih aja mikirin Ye-Jin. Padahal si Mi-Sook hatinya nggak berubah dari dulu, biar si Tae-Sik childish kayak apa, ya, tetap aja tulus menyukai dia...
Segitu dulu, yah, udah mau subuh, nih... hahaha... pokoknya satu hal yang aku suka dari "Ojakgyo Family", yaitu jalan ceritanya yang selalu di luar dugaan dan penuh dengan kehangatan keluarga. Genre family-nya kena banget! Apalagi kalau lagi ada masalah ada gitu, seluruh anggota keluarga bakal berkumpul dan bermusyawarah untuk memecahkan masalahnya bersama-sama.


Anyway, drama ini juga dikenal dengan nama "Ojakgyo Brothers", "Ojakgyo Family", atau "Golden Pond" ( di Indonesia jadinya "Keluarga Bahagia". Ngek? ). Kata "Ojakgyo" itu sendiri adalah nama jembatan yang dibentuk oleh burung gagak untuk menyatukan sepasang kekasih di langit, yaitu seorang penggembala dan seorang penenun. Hmm... mirip kepercayaan "Orihime dan Hikoboshi" yang ada dalam perayaan Tanabata di Jepang, nggak, sih?
Tuesday, December 13, 2011
MENGUMPAT
Nggak tau kenapa, nih, akhir-akhir ini jadi sensitif aja gitu...
Kayaknya apa-apa dibikin kesal terus.
Mau ngapa-ngapain jadinya nggak enak.
Sebenarnya dari dulu yang pengen banget aku lakukan tiap kali kondisiku lagi begini cuma satu, yaitu MENGUMPAT.
Kenapa harus MENGUMPAT?
Karena menurutku, dengan mengumpat bisa mengeluarkan sebagian emosi yang ada dalam diri kita.
Karena menurutku, dengan mengumpat seakan-akan sebagian beban kita ikut hilang.
Karena menurutku, dengan mengumpat dapat melampiaskan semua kekesalan yang ada, jadinya sedikit merasa lega.
Tapi setiap kali aku mau mengumpat...
Lidahku seperti tertahan.
Seolah-olah seperti ada yang berteriak, "Jangan!"
Padahal orang lain dengan mudahnya mengucapkan "C****E", "S**T", "F**K", "K***T", "*S*", atau berbagai "kebun binatang" lainnya.
Terus, aku harus gimana?
Aku udah ber-Istighfar...
Tapi rasanya Istighfar pun belum cukup untuk meredam emosiku.
Dan juga belum cukup untuk menutupi kesalahanku, bertaubat, bahkan untuk memaafkan diriku sendiri.
Rasanya aku kayak manusia nggak tau malu.
NGGAK TAU BERSYUKUR!
Tuhan,
Jangan sampai aku terjerat dalam lingkaran setan.
Aamiin...
Kayaknya apa-apa dibikin kesal terus.
Mau ngapa-ngapain jadinya nggak enak.
Sebenarnya dari dulu yang pengen banget aku lakukan tiap kali kondisiku lagi begini cuma satu, yaitu MENGUMPAT.
Kenapa harus MENGUMPAT?
Karena menurutku, dengan mengumpat bisa mengeluarkan sebagian emosi yang ada dalam diri kita.
Karena menurutku, dengan mengumpat seakan-akan sebagian beban kita ikut hilang.
Karena menurutku, dengan mengumpat dapat melampiaskan semua kekesalan yang ada, jadinya sedikit merasa lega.
Tapi setiap kali aku mau mengumpat...
Lidahku seperti tertahan.
Seolah-olah seperti ada yang berteriak, "Jangan!"
Padahal orang lain dengan mudahnya mengucapkan "C****E", "S**T", "F**K", "K***T", "*S*", atau berbagai "kebun binatang" lainnya.
Terus, aku harus gimana?
Aku udah ber-Istighfar...
Tapi rasanya Istighfar pun belum cukup untuk meredam emosiku.
Dan juga belum cukup untuk menutupi kesalahanku, bertaubat, bahkan untuk memaafkan diriku sendiri.
Rasanya aku kayak manusia nggak tau malu.
NGGAK TAU BERSYUKUR!
Tuhan,
Jangan sampai aku terjerat dalam lingkaran setan.
Aamiin...
Sunday, December 11, 2011
Kapan Belajarnya?
Nggak tau harus ngomong apa lagi.
Benar-benar SPEECHLESS.
Bawaannya capek melulu.
Kepala pusing. Berat.
Rasanya penuh dengan tekanan.
Kadang jadi nangis nggak jelas.
Nggak tau, nih, akhir-akhir ini labil dan bad mood-ku kambuh lagi.
RANDOMLESS. REBELICIOUS.
Aku cuma butuh motivasi.
Dan semangat penuh.
Yah... meskipun aku tau langkah yang kuambil ini penuh resiko...
Tapi kalau terus-menerus diingatkan tentang resiko dan konsekuensinya, kapan aku bisa maju?
Malah semakin tertekan dan negative thinking jadinya...
Aku cuma butuh support yang benar-benar bisa "membakar" tekad dan semangatku.
Ayo, Liaaa...
Kapan belajarnya?
Benar-benar SPEECHLESS.
Bawaannya capek melulu.
Kepala pusing. Berat.
Rasanya penuh dengan tekanan.
Kadang jadi nangis nggak jelas.
Nggak tau, nih, akhir-akhir ini labil dan bad mood-ku kambuh lagi.
RANDOMLESS. REBELICIOUS.
Aku cuma butuh motivasi.
Dan semangat penuh.
Yah... meskipun aku tau langkah yang kuambil ini penuh resiko...
Tapi kalau terus-menerus diingatkan tentang resiko dan konsekuensinya, kapan aku bisa maju?
Malah semakin tertekan dan negative thinking jadinya...
Aku cuma butuh support yang benar-benar bisa "membakar" tekad dan semangatku.
Ayo, Liaaa...
Kapan belajarnya?
Subscribe to:
Posts (Atom)